Cepat Sudah?
Musim belum berganti. Masih abu-abu diantara gemerincing hujan dan terik mentari. Aku tak sempat mengibarkan apapun, aku terkunci oleh sebilah kata yang membunuh prasangka baik. Aku tak dapat menegasi waktu, sementara jantungku mendebar kuat saat tahu kau membuangku jauh. Teramat jauh. Tapi tak mengapa, kecewaku bukan pertama seperti ini, meski ini yang kurasa lebih berat.
Berputarku dalam kesendirian. Kala dingin merasuk, kala panas seakan api
membakar mengamuk. Aku tetap bertahan pada kondisi buruk nan terpuruk. Saat tak ada pilihan, karena kau menyudahiku begitu cepat.
Sulitku untuk membiarkan semuanya berlalu. Meskipun kau berulangkali menasehatiku laksana guru mengajari murid kelas satu. "jangan mengharapku, nak!"
Jika boleh ku menakwil ungkapan tereliye, "aku harus membunuh dengan tega setiap rasa itu datang". Kalau dipikir-pikir, ya memang harus seperti itu. Aku harus memarkir diri-diam tanpa gerak menunggu peralihan hatimu.
Aku berada diantara kekonyolan dan ketidakmungkinan. hei! aku bukannya penyembah cinta, mengemis kasih dari tiap-tiap perhatian yang sengaja kubuat. Aku hanya ingin menjalin pertemanan, syukur-syukur kelak bisa bermetamorfosa menjadi cinta.
Kau meninggalkanku begitu saja. Aku dalam keadaan lebih parah dari sekedar digantung. Bukan teman, bukan rekan, bukan pula pria bodoh yang mencintai permaisuri kerajaan langit. Aku terekam sebagai pecundang yang dihancurkan berkeping-keping, bahkan tanpa menggunakan dinamit!
Ini kepahitan terbaik yang terpaksa kureguk dalam-dalam. Aku menerima kenyataan menyedihkan ini. Bahwa hampir sewindu berlalu, aku tetap tak bermakna apa-apa di matamu. Kosong.
Aku menutup lembaran ini dengan kalimat kepasrahan, menangis seperti perempuan, sebagaimana yang dikatakan ibu raja andalus terakhir saat kekuasaan 8 abad berhasil ditaklukkan musuh.
Aku hanya bisa bermimpi membuat dinasti besar bersamamu, tapi mungkin anganmu jauh tinggi mengangkasa, hingga aku tak dapat menggapaimu. Hingga kau terjunkan aku ke kerak bumi, saat aku hendak meraih tanganmu di kerajaan langit.
Sulitku untuk membiarkan semuanya berlalu. Meskipun kau berulangkali menasehatiku laksana guru mengajari murid kelas satu. "jangan mengharapku, nak!"
Jika boleh ku menakwil ungkapan tereliye, "aku harus membunuh dengan tega setiap rasa itu datang". Kalau dipikir-pikir, ya memang harus seperti itu. Aku harus memarkir diri-diam tanpa gerak menunggu peralihan hatimu.
Aku berada diantara kekonyolan dan ketidakmungkinan. hei! aku bukannya penyembah cinta, mengemis kasih dari tiap-tiap perhatian yang sengaja kubuat. Aku hanya ingin menjalin pertemanan, syukur-syukur kelak bisa bermetamorfosa menjadi cinta.
Kau meninggalkanku begitu saja. Aku dalam keadaan lebih parah dari sekedar digantung. Bukan teman, bukan rekan, bukan pula pria bodoh yang mencintai permaisuri kerajaan langit. Aku terekam sebagai pecundang yang dihancurkan berkeping-keping, bahkan tanpa menggunakan dinamit!
Ini kepahitan terbaik yang terpaksa kureguk dalam-dalam. Aku menerima kenyataan menyedihkan ini. Bahwa hampir sewindu berlalu, aku tetap tak bermakna apa-apa di matamu. Kosong.
Aku menutup lembaran ini dengan kalimat kepasrahan, menangis seperti perempuan, sebagaimana yang dikatakan ibu raja andalus terakhir saat kekuasaan 8 abad berhasil ditaklukkan musuh.
Aku hanya bisa bermimpi membuat dinasti besar bersamamu, tapi mungkin anganmu jauh tinggi mengangkasa, hingga aku tak dapat menggapaimu. Hingga kau terjunkan aku ke kerak bumi, saat aku hendak meraih tanganmu di kerajaan langit.
0 Comments:
Post a Comment