Zen, Sebuah Anomali Manusia Pemimpi
Zen, begitu kerap ia
disapa. Pria muda nan gagah ini tampak sangat istimewa di kampungnya.
Selain cerdas dalam ilmu agama, ia juga menguasai ilmu kedokteran,
fisika praktis, astronomi, dan dunia herbal. Cendekiawan sekitar
menyebutnya Bocah Polymath . Kendati masih belia, anak dari seorang nelayan ini memiliki tata hidup yang melampaui anak-anak sebayanya.
Tinggal di Desa Lho Nga, Aceh,
sebuah tempat yang begitu eksotis dan damai. Deburan ombak bersenandung
dengan hebatnya. Riak air yang disuguhkan bak alunan simfoni gitar
klasik. Indahnya karang di lelautan Lho Nga tawarkan ketakjuban yang
begitu mendalam. Belum lagi hembusan angin sepoi-sepoi yang berikan
aroma ketenangan bagi sekitar.
Wilayah pesisir Aceh ini
memiliki keistimewaan tersendiri bagi para penghuninya. Allah telah
menganugerahkan kekayaan alam yang tiada tara di desa Lho Nga.
Disamping hasil ikan yang melimpah-ruah, warga Lho Nga juga dihadiahi
panorama gunung berhiaskan ornamen-ornamen tetumbuhan kaya manfaat.
Bagi siapapun yang datang ke sana, rasanya sulit menuturkan rasa takjub
akan ragam nikmat yang datang dari Sang Pencipta mengenai tempat itu.
Zen menatap hari dengan cerah,
meskipun ia bukan dari keturunan orang berpunya. Berdiam di rumah
beratapkan jerami tanpa alas tidur yang memadai telah dilakoninya sedari
kecil. Ibunya sehari-hari bekerja sebagai penjual ikan yang memasarkan
hasil tangkapan sang ayah.
“Zen, kemari nak! Tolong
bantu ibu letakkan ikan-ikan ini ke dalam keranjang, nanti setelah
shalat subuh kita berangkat ke pasar. Setelah itu, kamu langsung pergi
ke sekolah ya?”, pinta sang Ibu penuh kasih.
“Baik bu”, jawab Zen dengan nada lirih.
Maklum, belakangan Zen agak
terganggu suaranya lantaran ia terlalu sering melaut dan sedikit minum
air. Sepulang sekolah, Zen cuma beristirahat sekitar setengah jam. Dan
waktu sesingkat itu digunakan untuk shalat, mandi, dan makan siang.
Beristirahat panjang memang
sangat asing bagi Zen. Hari demi hari ia lewati dengan kristalisasi
keringat, seakan rasa lelah telah menyerah menyambangi raganya.
23 tahun sudah Zen tinggal
bersama kedua orangtuanya. Di rumah yang sudah semakin lapuk dimakan
rayap, dan aneka ragam peristiwa alam yang siap datang menghantui.
Sekalipun Desa Lho Nga adalah
tempat yang sangat nyaman, akan tetapi wilayah ini sangat rentan
terhadap gempa. Ini yang membuat Zen selalu berpikir keras tentang
bagaimana menanggulangi bencana yang bisa datang kapan saja tanpa
permisi. Di sela-sela pengamatannya terhadap perilaku laut lepas kala
menemani ayahnya mencari ikan, Zen selalu memanjatkan doa kepada Allah
agar tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
bersambung...
0 Comments:
Post a Comment