-->

Friday, July 1, 2016

Zen, Sebuah Anomali Manusia Pemimpi
Zen, begitu kerap ia disapa. Pria muda nan gagah ini tampak sangat istimewa di kampungnya. Selain cerdas dalam ilmu agama, ia juga menguasai ilmu kedokteran, fisika praktis, astronomi, dan dunia herbal. Cendekiawan sekitar menyebutnya Bocah Polymath . Kendati masih belia, anak dari seorang nelayan ini memiliki tata hidup yang melampaui anak-anak sebayanya.

Tinggal di Desa Lho Nga, Aceh, sebuah tempat yang begitu eksotis dan damai. Deburan ombak bersenandung dengan hebatnya. Riak air yang disuguhkan bak alunan simfoni gitar klasik. Indahnya karang di lelautan Lho Nga tawarkan ketakjuban yang begitu mendalam. Belum lagi hembusan angin sepoi-sepoi yang berikan aroma ketenangan bagi sekitar.

Wilayah pesisir Aceh ini memiliki keistimewaan tersendiri bagi para penghuninya. Allah telah menganugerahkan kekayaan alam yang tiada tara di desa Lho Nga. Disamping hasil ikan yang melimpah-ruah, warga Lho Nga juga dihadiahi panorama gunung berhiaskan ornamen-ornamen tetumbuhan kaya manfaat. Bagi siapapun yang datang ke sana, rasanya sulit menuturkan rasa takjub akan ragam nikmat yang datang dari Sang Pencipta mengenai tempat itu.   

Zen menatap hari dengan cerah, meskipun ia bukan dari keturunan orang berpunya. Berdiam di rumah beratapkan jerami tanpa alas tidur yang memadai telah dilakoninya sedari kecil. Ibunya sehari-hari bekerja sebagai penjual ikan yang memasarkan hasil tangkapan sang ayah.

“Zen, kemari nak! Tolong bantu ibu letakkan ikan-ikan ini ke dalam keranjang, nanti setelah shalat subuh kita berangkat ke pasar. Setelah itu, kamu langsung pergi ke sekolah ya?”, pinta sang Ibu penuh kasih.

“Baik bu”, jawab Zen dengan nada lirih.

Maklum, belakangan Zen agak terganggu suaranya lantaran ia terlalu sering melaut dan sedikit minum air. Sepulang sekolah, Zen cuma beristirahat sekitar setengah jam. Dan waktu sesingkat itu digunakan untuk shalat, mandi, dan makan siang.

Beristirahat panjang memang sangat asing bagi Zen. Hari demi hari ia lewati dengan kristalisasi keringat, seakan rasa lelah telah menyerah menyambangi raganya.

23 tahun sudah Zen tinggal bersama kedua orangtuanya. Di rumah yang sudah semakin lapuk dimakan rayap, dan aneka ragam peristiwa alam yang siap datang menghantui.


Sekalipun Desa Lho Nga adalah tempat yang sangat nyaman, akan tetapi wilayah ini sangat rentan terhadap gempa. Ini yang membuat Zen selalu berpikir keras tentang bagaimana menanggulangi bencana yang bisa datang kapan saja tanpa permisi. Di sela-sela pengamatannya terhadap perilaku laut lepas kala menemani ayahnya mencari ikan, Zen selalu memanjatkan doa kepada Allah agar tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


 
bersambung...

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna Veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.

0 Comments:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
DANYPUTRA IP
+62821-5863-2212
Yogyakarta, Indonesia