-->

Thursday, July 21, 2016

Terlalu Banyak Berharap, Terlalu Banyak Kecewa
Aku benar-benar masih ingat. Sajak perkenalan dimana hatiku tertambat kuat. Bahkan terlampau kuat. Sampai-sampai aku tak kuasa meneguhkan hati, agar ia beranjak dari geliat angan berkepanjangan. Entahlah, rasa ini hadir melebihi batas yang kutahu. Percakapan singkat itu membekas lekat dalam ingatanku. Sosokmu yang selalu hadir berlalu-lalang dalam nyataku. Salahkah jika perasaanku bagai memandang berkerlip cahaya bintang ditengah tutupan awan hitam? Dosakah aku bila bermimpi menggapai langit? Dan memantik satu garis edar planet untuk memenangkan hatimu?

Ah! Aku begitu bodoh! Gila! Mana mungkin kau memerdulikanku. Menjadikanmu milikku?? ah mustahil! Syukur-syukur kalau aku bisa merasuk dalam mimpimu. Sungguh jauh dari kepalan. Mana mungkin kau pahami perasaanku, sebab kau tulikan sanubarimu untuk menyambut derai kesedihanku. Sebab kau keringkan hatimu untuk sedetik saja mencerna sorot mataku.

Kau tak pernah paham. Sejak dulu atau mungkin selamanya. Aku sadar bahwa aku hanya seonggok sampah yang mengganggu penciumanmu. Dan aku hanya benalu yang terus tumbuh dan menumpuk harap-harap palsu. Tatapanku yang nanar kau balas dengan tatapan kebencian. Perhatianku yang dalam kau tampik dengan sejuta keangkuhan. Apakah kesalahanku begitu fatalnya karena mencintaimu?

Sudahlah! Aku terlalu banyak berkeluh-kesah. Menampung muak di kelebat hati sendiri. Tapi tak mengapa kok, aku sudah biasa begini. Dilindas dijejal oleh kebekuan hati. Lebih baik aku berkawan kesendirian. Sampai tiba saatnya dimana kecewa menguap, hilang dan lenyap.

Mungkin sampai datangnya penghujung waktu, aku tak pernah menjadi siapa-siapamu. Dan memang aku bukan siapa-siapa. Aku terlalu banyak berharap, hingga aku harus menerima ke-fatalan-ku sendiri. Kau jauh dari genggaman tangan, kau berlari tinggalkan perihnya kenangan.

Semua benar salahku. Aku begitu kukuh dengan rasa percaya diriku mendekatimu di awal, saat kita masih berseragam putih abu-abu. Aku mengerti bahwa kau tiada inginkan hadirku disisimu. Memintamu untuk menjalin kehidupan ‘sempurna’ hanyalah sebuah utopia.

Pergilah! Nikmati duniamu tanpa bayangku. Biar aku sendiri yang mengeringkan luka ini. Luka dalam, yang sulit terobati, sesulit melupakanmu.

                                                                 

Dari seseorang yang kekeringan cara membuktikan pekarasa-nya.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna Veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.

0 Comments:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
DANYPUTRA IP
+62821-5863-2212
Yogyakarta, Indonesia