-->

Friday, July 1, 2016

Tentang Cinta yang Tak Pernah Pudar


Confusius, lahir atas kerendahan hati dan jiwa yang membumi. Namanya melegenda di negeri Tirai Bambu. Sebagian dunia dan seisinya juga menyimpan kesejukan dari hidupnya. Kecintaan Confusius terhadap semesta, mengikat dirinya akan kasih sayang Tuhan. Lekat pula Buddhism yang menyampaikan penataan hidup sejati tanpa lalui cara-cara yang kasar lagi keras.

Karakter menjejak ini lahirkan cinta yang tak pernah pudar, pada alam dan seisinya. Sikap semacam ini mempertahankan seseorang dalam menghadapi segala kesakitan. Karena Sang Pencipta memberikan anugerah di balik siksa dunia. Ditinggalkan oleh cinta, terluka karenanya, gelisah dalam belenggu berbatas, adalah sedikit diantara sekian banyak petaka.

Confusius hadir dengan ketenangan jiwa. Tertulis indah melalui 'sabda-sabda'nya. Ia berjalan tenang, tanpa rasa takut. Bertanggungjawab atas segala yang telah ia ucapkan. Hormatnya begitu dalam terhadap guru-guru penulis sastra lama, tak sedikit ajaran mereka juga dipatuhinya. Confusius mengegeraki cinta tanpa syarat. Anonim pertentangan jiwa-jiwa yang rapuh di masa mendatang, yang tak diketahuinya. Sedikit sekali diantara manusia yang masih menyisakan waktu dan pikirnya, untuk menggenapi hari, mencari sabda-sabda lama, tanpa lagi melihat pesan yang tersampai lahir dari lisan seorang Nabi atau bukan. Sebab selain Utusan Tuhan, alam adalah guru terbaik.

Membaca kisah dalam aksara lama, mengikis pelan kebimbangan jiwa. Seperti mencinta tanpa kekasih, atau membuat diri pantas namun dibuang kemudian. Tak ubahnya Confusius, Tao juga memberikan energi tersendiri dalam hidup. Bagaimana seseorang bisa menghela nafas dalam-dalam, kemudian memunculkan Chi, sebuah potensi terbaik dalam diri.

Chi itu sendiri, tak mudah untuk 'memanggilnya'. Kerapkali kecamuk pikiran menggagalkan kemunculannya. Konsentrasi besar diperlukan untuk mematri keseimbangan hati agar didapati energi terbarukan (Chi).

Kisah-kisah legenda, sabda-sabda Nabi, petuah-petuah bumi, Buddhism, apapun bentunya, bermuara pada ketaatan, kedamaian, keselarasan hati dan pikiran untuk menerima segala keputusan Tuhan dengan tenang dan sabar. Confusius tidak memberatkan dirinya untuk satu keyakinan saja, tapi mengudarakan pesan bagi seluruh umat manusia, bahwa cinta Tuhan pada hambaNya-lah yang sejati. Seluruh alam dan kehidupan disediakan untuk melayani setiap insan yang menyampaikan diri dalam tatap pikir akan keMahaagungan-Nya. Menyadari akan pastinya hari berbangkit, dengan segala bentuk penceriteraan.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna Veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.

0 Comments:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
DANYPUTRA IP
+62821-5863-2212
Yogyakarta, Indonesia