Tentang Cinta yang Tak Pernah Pudar
Confusius, lahir atas kerendahan hati dan jiwa yang
membumi. Namanya melegenda di negeri Tirai Bambu. Sebagian dunia dan seisinya
juga menyimpan kesejukan dari hidupnya. Kecintaan Confusius terhadap semesta,
mengikat dirinya akan kasih sayang Tuhan. Lekat pula Buddhism yang menyampaikan
penataan hidup sejati tanpa lalui cara-cara yang kasar lagi keras.
Karakter menjejak ini lahirkan cinta yang tak pernah
pudar, pada alam dan seisinya. Sikap semacam ini mempertahankan seseorang dalam
menghadapi segala kesakitan. Karena Sang Pencipta memberikan anugerah di balik
siksa dunia. Ditinggalkan oleh cinta, terluka karenanya, gelisah dalam belenggu
berbatas, adalah sedikit diantara sekian banyak petaka.
Confusius hadir dengan ketenangan jiwa. Tertulis indah
melalui 'sabda-sabda'nya. Ia berjalan tenang, tanpa rasa takut.
Bertanggungjawab atas segala yang telah ia ucapkan. Hormatnya begitu dalam
terhadap guru-guru penulis sastra lama, tak sedikit ajaran mereka juga
dipatuhinya. Confusius mengegeraki cinta tanpa syarat. Anonim pertentangan
jiwa-jiwa yang rapuh di masa mendatang, yang tak diketahuinya. Sedikit sekali
diantara manusia yang masih menyisakan waktu dan pikirnya, untuk menggenapi
hari, mencari sabda-sabda lama, tanpa lagi melihat pesan yang tersampai lahir
dari lisan seorang Nabi atau bukan. Sebab selain Utusan Tuhan, alam adalah guru
terbaik.
Membaca kisah dalam aksara lama, mengikis pelan
kebimbangan jiwa. Seperti mencinta tanpa kekasih, atau membuat diri pantas
namun dibuang kemudian. Tak ubahnya Confusius, Tao juga memberikan energi
tersendiri dalam hidup. Bagaimana seseorang bisa menghela nafas dalam-dalam,
kemudian memunculkan Chi, sebuah potensi terbaik dalam diri.
Chi itu sendiri, tak mudah untuk 'memanggilnya'.
Kerapkali kecamuk pikiran menggagalkan kemunculannya. Konsentrasi besar
diperlukan untuk mematri keseimbangan hati agar didapati energi terbarukan
(Chi).
Kisah-kisah legenda, sabda-sabda Nabi, petuah-petuah bumi,
Buddhism, apapun bentunya, bermuara pada ketaatan, kedamaian, keselarasan hati
dan pikiran untuk menerima segala keputusan Tuhan dengan tenang dan sabar.
Confusius tidak memberatkan dirinya untuk satu keyakinan saja, tapi
mengudarakan pesan bagi seluruh umat manusia, bahwa cinta Tuhan pada
hambaNya-lah yang sejati. Seluruh alam dan kehidupan disediakan untuk melayani
setiap insan yang menyampaikan diri dalam tatap pikir akan keMahaagungan-Nya.
Menyadari akan pastinya hari berbangkit, dengan segala bentuk penceriteraan.
0 Comments:
Post a Comment