Sesuci Cinta Nirwana
Pyuh, nyaris saja ketahuan, bisikku dalam hati. Rasa takut mulai menanjak bak pesawat yang hendak lepas landas.
Padahal tinggal sejengkal lagi aku mengutarakannya. Namun seketika aku
tak bisa bersuara, kontan saja Zahra semakin beranggapan kalau
perangaiku tambah aneh. Segera aku putuskan percakapan yang telah
berlangsung hampir setengah jam via handphone, raut mukaku tampak
seperti orang kesasar naik angkot. Bingung.
Gugun tercengang. Memandangiku keheranan.
"Kok loe ga jadi nembak dia Ren? Selidik Gugun "
Aku terhenyak sesaat, kemudian menanggapi pertanyaan Gugun dengan wajah mengkerut.
"Ga ... ga tau nih Gun, aku juga ga ngerti"
Zahra sungguh menyimpan sejuta pesona. Kepolosan dan kesederhanaannya
tak jarang membius akalku. Lebih-lebih ketika di kelas. Memori itu
selalu kurekam dalam-dalam. Benar-benar sulit dihapus.Galau.
Dia gadis yang sangat baik. Siapapun pasti bilang begitu. Sejenak
diambang kegalauan aku pun berpikir keras. Sampai akhirnya aku sadar,
bahwa niatan untuk memilikinya sesaat adalah sesuatu yang keliru.
Di sampingku, terlihat raut muka si Gugun yang kelihatannya memendam
sejuta kegamangan. Lantas aku berbicara agak santai padanya.
"Mungkin ini pilihan yang tepat Gun, kalo udah jodoh ga bakal kemana kan?". Aku menatapnya tajam.
Gugun, dengan lagak seperti om Mario Teguh kembali melontarkan batu kebimbangan padaku.
"Hidup memang pilihan Ren. Ingat, kesempatan ga datang dua kali lho. "
"Bener juga sih", aku mengangguk pelan.
Sejak pagi tadi Gugun terus menyemangatiku. Hasratku untuk memacari
Zahra sempat meledak-ledak.Wajah-wajah berbinar saling mengisi antara
kami. Ruang ber-AC yang dingin seakan menjadi hangat seperti di
perapian.
Namun saat ini. Bisikan-bisikan antara benar dan salah kian menghiasi
gendang telingaku. Antara hitam dan putih. Antara cinta dan nafsu.
Ah .. memang begitulah adanya, rasa simpati yang berlebihan terhadap
lawan jenis adakalanya berikan petaka. Gemuruh pesona asmara yang
mengguntur dalam dada pasti tak terelakkan.
Hari ini, hari minggu kelabu. Kicau burung yang mengirim kami sejak
tadi, mulai terdengar samar-samar.Nuansa keindahan yang mengitari
sisi-sisi kamarku seakan menghilang diterjang badai kegelapan.
Astaghfirullah, ternyata begitu ya? Gugun menyentak lamunanku.
Ada apa Gun? tanyaku diselimuti rasa penasaran.
Ternyata pacaran itu dilarang ya, aku baru tau Ren. Maafin aku ya?, Pinta Gugun penuh rasa bersalah.
Karuan saja aku kaget. Dalam diam ternyata kudapati Gugun sedang membaca
majalah remaja muslim gaul koleksi terbaru milikku. Parahnya majalah
itu masih terbungkus rapi dan kuletakkan di atas meja belajarku. Jujur
aku lupa membacanya. Padahal kata Mas Furqon, membaca itu sarapan
penting.
Duh, pikiranku mulai menari-nari mengitari alam bawah sadar. Allah, please help me .....
bersambung...
0 Comments:
Post a Comment