-->

Friday, July 1, 2016

Pohon Cinta
Aku mengenalnya. Bukan kemarin sore. Bukan pula di pergantian minggu. Aku mengenalnya sejak lama. Sejak menapak di jejak usia tumbuh. Remaja. Sebaliknya, mungkin dia juga mengenalku. Dari sudut lain, dari pergelangan nadinya, bukti nyata lembutan kasih titisan bidadari surga. Tak pernah terlihat jelas, bahkan samar, tapi indahnya berbeda.

Dalam yakinku aku sering mengepal gundah, mengulum senyum diantara berbait gurindam cinta. Aku bergumam di beranda depan pengharapan, mekaran mimpi pun hinggap. Aku terus berdoa dalam diam, menyimpan satu nama. Satu nama yang selalu mengiang berulang-ulang di kepala. Entah bersebab apa, dan bagaimana.

Terkadang diam itu menyakitkan bagi sebagian orang, dan tak jarang diam dapat sebabkan luka, tapi ia bisa juga bermakna lain. Diam juga mengibarat sembunyi perasaan dibalik tirai ketulusan, gigih bertahan atas kepastian cinta.

Memang kelihatan seperti ritme datar, tanpa irama. Sejatinya adalah reduksi hati kala sujud mengharap kepadaNya. Mata menjadi basah, sembab oleh suatu karna.

Kututup diary unguku dan kukunci ia rapat-rapat. Penetrasi rasa cintaku begitu terluruh di tiap lembarannya. Di setiap pertemuan kami, aku selalu membubuhkan tanggal dan waktunya. Aku menyimpan buku kecilku ini di lemari kamar, diantara hehimpitan pakaian yang membuatnya tampak aman. Kupastikan hanya aku yang dapat mengaksesnya.

Aku pernah mengutip tulisannya yang pernah menjadikannya juara pertama karya tulis tingkat nasional. Aku menyadurnya ke diary kecilku, dan ini yang paling kuingat, “cinta sejati berawal dari DIAM. Mengucap saat pasti, menahan bila belum saatnya. Adalah lelaki baik jika ia mampu menjaga lidahnya dari perkataan cinta, sementara dirinya tak mau mengikat. Wanita itu mahluk lemah, ia betah menunggu, tapi ia mudah dibuai dengan kalimat-kalimat manis”.

Mendalam sekali bukan?

Karenanya ia memilih bungkam. Tak pernah keluar dari lisannya agar diminta perhatian. Lantas aku sendiri harus berbuat apa? Paling tidak aku hanya mampu membalasnya lewat berlarik doa. Semoga molekul-molekul doa kami bertemu di titik yang sama. Aku menyebut namanya. Dia menyebut namaku. Mungkin saja.

Terasa semakin aneh?

Justru makin terang. Pembalasan yang terbaik hanya didapat dari usaha terbaik pula. Semua ada di genggaman Sang Maha Cinta. Maka tak perlu berdekat-dekat, tak perlu ucapkan perasaan hanya demi setakat nikmat.

Memerhatikan dalam diam, mencintai lewat doa, dan berusaha memperbaiki kualitas diri, niscaya dari upaya-upaca kecil ini akan tumbuh menjadi sebuah pohon yang lebat, dengan rindangnya dedaunan, yang memberikan keteduhan abadi selama-lamanya, itulah POHON CINTA.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna Veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.

0 Comments:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
DANYPUTRA IP
+62821-5863-2212
Yogyakarta, Indonesia