Menjaga, Merencana, lalu Bercahaya
Sebuah tajuk menarik yang boleh kita simak dari “kicau penuh makna” mereka adalah tentang bagaimana menjaga cinta, menyelaraskannya antara rasa dan logika.
Cinta. Lagi-lagi masalah cinta. Tanpanya tiadalah kehidupan. Bagaimana mungkin seseorang hidup tanpa cinta. Adalah Rasulillah saw, sang pembawa cinta, jangankan tatkala berkata-kata, diamnya pun selayak intan permata. Siapa saja akan takluk melihat wajahnya yang purnama. Sayang generasi kita tak mampu melihat, namun dapat merasa. Dan merasa ini boleh jadi tak kalah purna dengan melihat.
Kembali lagi soal bagaimana menyederhanakan cinta, membuatnya beda namun sarat makna, menjaganya agar tetap bercahaya. Cinta adalah sebuah kerja keabadian, untuk merengkuhnya haruslah tepat guna, bukan bergantung selera.
Sejatinya banyak alasan bagi siapa saja yang mendamba cinta, segala cara dilakukan dengan rela. Akan tetapi mesti diingat, sebuah kerelaan saja tiada cukup dianggap amal shaleh jika tak bersamaan dengan metoda yang tepat, sesuai titahNya.
Lalu posisi kita? Sederhana. Paling tidak ini yang harus kita hindari:
1. Memaksakan jalan cerita 2. Menginstall sembarang perasaan 3. Buru-buru dalam keputusan 4. Galau berkepanjangan 5. Terlalu banyak angan-angan
Posisi saya dan anda sama. Tiada beda. Ini bukanlah sesuatu yang diperuntukkan bagi satu atau dua insan saja, melainkan semuanya, membumi. Berusaha, mencoba perlahan. Pahami juga bahwa hanya yang terbaik saja yang mampu menjalaninya. Sebagaimana mereka, para penulis besar, yang sudah lebih dulu merasakan manis-getirnya.
****
Menjaga, Merencana baru Bercahaya..
Cinta itu kadang tak membutuhkan layar, pula tak perlu ditagih, ia kan tunaikan janjinya sendiri. Ia biasa diterpa angin, hinggap kesana kemari. Meski seutuhnya dia tahu kemana harus bersandar. Untuk kesekian dan kesekian, hingga menapaki langkah terakhir.
Jika kita sudah berdekat bahkan mendekap dalam sebuah cinta. Maka tak perlu berlelah-lelah mencari selain yang sudah ada. Dia akan konsisten padamu. Selamanya, untuk satu saja. Bersandar kesetiaan dan kesiapan, untuk mengajukan permohonan mencinta, lewat dua insan yang (pasti) kita cinta, ayah dan bunda..
Apa masih ada sekelumit pertanyaan tentang cinta???
0 Comments:
Post a Comment