Menjadi Pelangi
Tak
terkecuali aku, hari kamis lalu aku bergegas menuju terminal kampung rambutan
sekira pukul 4 sore. Aku meninggalkan apartemen cukup mewah pamanku,
meninggalkan pemandangan wah dari lantai atas, menyisakan jejak-jejak langkah
berpeluh. Aku mengunjungi rumah Mbak Irna, sepupuku yang baik hati.
Libur panjang merupakan sesuatu yang paling berharga di sini, bahkan melebihi kepingan emas. Aku menjalani 4 hari lowong dengan langkah-langkah kecil, menapaki sudut-sudut ruang kehidupan dengan semangat. Di tengah sibuknya manusia merapatkan kendaraan mereka di ruas jalan yang begitu sempit, menuju “arena-arena” rekreasi pelepas lelah di Bogor.
Kampung
Rambutan adalah perantara perjalananku yang hampir aku lewati tiap hari,
terlebih ketika aku pulang dari kampus kecil sarat makna di Bambu Apus
Cipayung. Mau tidak mau aku harus melalui tempat yang kurang bersahabat ini. Tak
banyak kesan indah yang bisa aku ceritakan di kampung rambutan, kecuali tatkala
aku berjalan pulang ke rumah bersama Irfan, sahabat baruku. Selain itu, aku
hanya menjumpai keras dan kasarnya suasana terminal ini. Para calo berkeliaran
mencari mangsa, kerubungan asap, penjaja makanan dan minuman ringan, sesekali
aku dapati aroma pesing di sekitar bus kopaja, pengamen-pengamen jalanan yang
silih berganti masuk ke dalam bus, dan desakan-desakan para penumpang dari
berbagai penjuru. Suasana di sini begitu kering, seakan menampar siapa saja
yang datang. Keringatku mengucur deras, bulir-bulir debu menempel erat di
tubuhku.
Kadang
aku tak bisa menahan badanku yang gemetar, menghadapi lajunya waktu.
Warna-warni pelangi seakan pupus satu per satu tertutup awan mendung.
Sejak
aku hijrah dari rumah mungilku di kalimantan, aku mendapatkan suasana baru di
sini. Suasana panas-dingin, remuk-redam menjadi energi yang terus-menerus
bergulir.
Walaupun
tak jarang aku merasa sumpek dengan keadaan Ibukota, di sisi lain aku meraih rasa
kekeluargaan yang hangat, damai, dan mempesona. Sungguh tak pernah kubayangkan
sebelumnya, apalagi merestorasinya menjadi sebuah mimpi.
Di
tempat Mbak Irna, aku membuang semua kepenatan. Nuansa berisik jakarta lenyap
setiba aku di rumahnya di Tangerang, tepat di belakang pasar modern Karawaci, tempat
dimana pagelaran musik ala kapitalis berlangsung, dengan program “outbox” salah satu stasiun televisi
swasta ternama, yang sebagian menjajakan perawan-perawan manis yang
berlenggak-lenggok di atas panggung. Dan pastinya, kualitas vokal menjadi anak
tiri.
Tentu
saja aku tak tertarik pergi ke sana. Aku dapat informasi itu dari Mbak Irna dan
Mas Purwo, dua sejoli yang begitu ramah menyapa nuraniku. Aku jauh lebih tenang
berada di dalam rumah, ditemani dua ponakan yang pintar lagi lucu; Yazid dan
Rizki, dibarengi sentuhan lembut memanja mereka. Bagiku ini adalah rekreasi
yang paling membahagiakan, dimana aku bisa berbagi cerita, mulai dari kejadian-kejadian
heroik ketika aku di apartemen, bercengkerama berdua dengan pamanku yang luar
biasa, hingga seputar perjalanan cukup panjang Jakarta-Tangerang yang aku
gelayuti.
“Assalamualaikum”
“Waalaikum salam”
“Ada Om Danu, nak salim dulu sama Oom…”
Sambutan
hangat Mbak Irna hadirkan melankoli yang biru, benar-benar biru.
Aku tiba
di rumah Mbak Irna tepat pukul enam sore. Aku dipersilahkan masuk ke dalam dan
beristirahat sejenak. Kemudian aku mengambil wudhu dan salat maghrib.
Hening…
(Bersambung)
0 Comments:
Post a Comment