Menggugat Cinta Palsu
Tak pernah kukira jika
begini jadinya. Semua ini berjalan begitu natural. Gelegak rindu pembungkus
qalbu. Relungku senantiasa dapati percikan debu yang menelusuk dalam. Bahkan terlalu
dalam.
Digdaya cinta terus
menggetarkan jiwa. Bertengger nafas dalam sebutir pil pahit yang sudah
terlanjur kutelan. Dan tiada mungkin aku menumpahkannya kembali.
Menggugat cinta palsu.
Itu yang kulakukan. Sama seperti apa yang Albrecht Durer lakukan ketika
lukisannya “direka ulang” oleh para penipu ulung. Aku tidak berbicara tentang
penggandaan, aku berbicara tentang pemalsuan.
Bukan kisah penipuan
saja yang membuat aku tergelak untuk meraut kembali kalimat demi kalimat yang
saling bertalian ini. Aku hendak mengisahkan perjalanan seorang pangeran dalam
mengarungi rimba kehidupan. Dan semoga, ada satu titik yang kemudian dapat
mewakili jiwaku, yang aneh dan tak sempurna.
Adalah seorang
Marquis, anak keturunan King dan Queen di Kerajaan Inggris, sebagai manusia
yang punya “segala-galanya”. Keserbaan ini menimbulkan iri hati di setiap
orang. Marquis merebut hati gadis-gadis terbaik inggris, dari kawan bahkan
lawannya. Jika sudah begini, siapa yang tidak menaruh dendam padanya? Pada
Marquis anak kedua Raja?
Bagiku, Barbara sangat
piawai menceritakan Kejadian Marquis dalam padanan sebuah karya diantara
ratusan karyanya. “Jangan Ingkari Cinta”. Semua tergambar blak-blakan, namun
tetap apa adanya. Sama sekali tidak agresif.
Gaya sastra lama berkesan
santai, lugas, namun tetap dibumbui intuisi agar hidangan terasa semakin
nikmat.
Singkat cerita, Sang
Marquis telah menjelma menjadi playboy kelas wahid abad ke-19. Barbara sendiri
kehabisan ide menggelarinya. Ia katakan Marquis bahkan lebih dari seorang
playboy. Dengan baju zirah khas kerajaan, dengan lengggak-lenggok kudanya yang
cantik-cantik, bersambung lekatan-lekatan para Gadis. Ratu Elizabeth sendiri
tak pernah risau mengenai ini.
Namun sayang beribu
sayang, Marquis tak memahami rasa. Dia tak dapat membedakan antara beranda dan
setelan akhir dalam bercinta. Sanggupkah ia menempatkan idiom ketampanannya dan
"kesegalaan-nya" hanya kepada salah satu-diantara mereka?
Demikianlah fakta
sejarahnya, tumpuan kisah sang pangeran yang tak ubahnya penipu dan pemalsu
tenar, yang berhasil menjiplak jerih payah Albrecht Durer. Sanggupkah para
pemalsu ini mengakui kepalsuannya seperti Hans van Meergeren (1935-1945)?
Dan aku, ibarat dua
sisi mata uang jika disandingkan dengan kisah keduanya. Aku tak perlu munafik
andai kiranya aku pernah menabur harapan palsu? Harus kuakui, ketakutanku
bertumpuk, bahkan ia berwujud di beranda. Kuharap Tuhan masih memberikan
kesempatan bagiku, untuk menggugat cinta palsu. Aku tak ingin kisahku berujung
gagal dan runtuh, layaknya kekaisaran Byzantium yang hancurluluh oleh genderang
perang yang tertabuh.
0 Comments:
Post a Comment