-->

Friday, July 1, 2016

Menggugat Cinta Palsu
Tak pernah kukira jika begini jadinya. Semua ini berjalan begitu natural. Gelegak rindu pembungkus qalbu. Relungku senantiasa dapati percikan debu yang menelusuk dalam. Bahkan terlalu dalam.
Digdaya cinta terus menggetarkan jiwa. Bertengger nafas dalam sebutir pil pahit yang sudah terlanjur kutelan. Dan tiada mungkin aku menumpahkannya kembali.

Menggugat cinta palsu. Itu yang kulakukan. Sama seperti apa yang Albrecht Durer lakukan ketika lukisannya “direka ulang” oleh para penipu ulung. Aku tidak berbicara tentang penggandaan, aku berbicara tentang pemalsuan.

Bukan kisah penipuan saja yang membuat aku tergelak untuk meraut kembali kalimat demi kalimat yang saling bertalian ini. Aku hendak mengisahkan perjalanan seorang pangeran dalam mengarungi rimba kehidupan. Dan semoga, ada satu titik yang kemudian dapat mewakili jiwaku, yang aneh dan tak sempurna.

Adalah seorang Marquis, anak keturunan King dan Queen di Kerajaan Inggris, sebagai manusia yang punya “segala-galanya”. Keserbaan ini menimbulkan iri hati di setiap orang. Marquis merebut hati gadis-gadis terbaik inggris, dari kawan bahkan lawannya. Jika sudah begini, siapa yang tidak menaruh dendam padanya? Pada Marquis anak kedua Raja?

Bagiku, Barbara sangat piawai menceritakan Kejadian Marquis dalam padanan sebuah karya diantara ratusan karyanya. “Jangan Ingkari Cinta”. Semua tergambar blak-blakan, namun tetap apa adanya. Sama sekali tidak agresif.

Gaya sastra lama berkesan santai, lugas, namun tetap dibumbui intuisi agar hidangan terasa semakin nikmat.

Singkat cerita, Sang Marquis telah menjelma menjadi playboy kelas wahid abad ke-19. Barbara sendiri kehabisan ide menggelarinya. Ia katakan Marquis bahkan lebih dari seorang playboy. Dengan baju zirah khas kerajaan, dengan lengggak-lenggok kudanya yang cantik-cantik, bersambung lekatan-lekatan para Gadis. Ratu Elizabeth sendiri tak pernah risau mengenai ini.

Namun sayang beribu sayang, Marquis tak memahami rasa. Dia tak dapat membedakan antara beranda dan setelan akhir dalam bercinta. Sanggupkah ia menempatkan idiom ketampanannya dan "kesegalaan-nya" hanya kepada salah satu-diantara mereka?

Demikianlah fakta sejarahnya, tumpuan kisah sang pangeran yang tak ubahnya penipu dan pemalsu tenar, yang berhasil menjiplak jerih payah Albrecht Durer. Sanggupkah para pemalsu ini mengakui kepalsuannya seperti Hans van Meergeren (1935-1945)?

Dan aku, ibarat dua sisi mata uang jika disandingkan dengan kisah keduanya. Aku tak perlu munafik andai kiranya aku pernah menabur harapan palsu? Harus kuakui, ketakutanku bertumpuk, bahkan ia berwujud di beranda. Kuharap Tuhan masih memberikan kesempatan bagiku, untuk menggugat cinta palsu. Aku tak ingin kisahku berujung gagal dan runtuh, layaknya kekaisaran Byzantium yang hancurluluh oleh genderang perang yang tertabuh.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna Veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.

0 Comments:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
DANYPUTRA IP
+62821-5863-2212
Yogyakarta, Indonesia