Berubah
Aku bangga. aku bangga bisa mengenalmu, mengetahuimu hingga sejauh ini. Meski telah terbuang, tersisih jauh-aku tetap mengagumimu hingga ke ujung kuku. Terpahit kadang aku mendoa agar kau gagal menjalin apapun dengan lelaki lain, bahkan yang lebih tangguh dariku. Diam tanpa kata menyebut tanpa nama. Melodi itu selalu kupetik kala imajiku mengajak bermain-main menampilkan keindahanmu.
Aku memahaminu dengan baik, aku juga mengerti kondisimu dan keluargamu. Kuakui aku pun berkekurangan, tapi bolehkah aku mengajakmu bermimpi sedikit saja? membuat janji? merangkai mimpi-mimpi bersama? menyatukan dua frekuensi nalar diriku-dirimu?
Tapi berpuluh pekan terlampau sudah. Agaknya kau berubah. Tak ada lagi sapaan manis pembangkit rindu. Tak ada lagi kunjunganmu ke rumahku, walau kau melakukannya dalam keadaan terdesak. Tak kutemui kau dalam selenting ingatanku. Kemana kau pergi? kemana kau berlari, hei pencuri hati?
Demikian terus begitu, roda waktu berputar melaju. Aku mengharu di keramahan senja seusai dipinang langit biru. Bertemu menjadi pendar berwarna ungu. Aku berpadu diantara lapis-lapis kenikmatan. Saat menjamah senyummu, saat membalas rayuanmu. Lalu bagaimana kini?
Kulihat kau mulai menghabisiku. Tanpa Ampun. Itu tak terlihat saat kau menjadi sarjana strata satu. Aku menyusul 2 bulan kemudian. Aku bekerja dan berseragam, sementara kau tengah mencari-cari peruntungan.
Sesekali kupandangi ikan-ikan mungil yang menari di akuarium. Membayangkan apakah kau bisa kembali seperti dulu lagi. Sesalku telah menjeda hari, menghubungimu tapi putus-putus, sampai dimana aku mendengarmu telah mendapat pekerjaan ikatan dinas. Syukurku bukan kepalang, mengharap-harap kamu tetap anggun selayaknya kamu tak mampu berbuat banyak saat masih terkurung di asrama. Selamat! kau sekarang menjadi apa-apa.
Sungguh aku tak mengharap balas lebih darimu. Bagiku cinta kasihmu tak berkurang walau kau sekarang mulai dipandang. Malangnya aku, aku terpaksa melepaskan seragamku dari ikatan perusahaan yang mencekik leher. Aku ingin merdeka, bebas dengan karya-karyaku.
Seragam lepas walau tak menganggur, sementara di kantor tempat kerjamu yang pertama, kau mendapat perhatian dari lelaki gagah, tak lusuh berbau sampah sepertiku. Dengan mudahnya kau layangkan sinyal cinta, hingga kau jadikan ia sebagai calon pendamping hidup. Abadi sampai mati.
Kau berubah.
Jika hidupmu telah cukup tanpa aku, mungkin aku memang terlalu bodoh untuk menggapaimu. Aku hanyalah pria miskin yang tak mengerti arti sebuah kemapanan. Aku hanya memiliki satu kata penuh omong kosong ini;cinta.
0 Comments:
Post a Comment