Bagaimana Jika Kupinang Kau dengan Sebuah Novel?
Lazim sudah terdengar kalimat, “Kupinang Kau dengan Bismillah”. Aku
mencoba mencari celah tentang situasi bismillah yang sebenarnya.
Maksudku kalimat tinggi itu disertai dengan apa?
Sabtu ini merupakan sabtu paling istimewa buatku, mungkin juga buat Ragil sahabat ku. Kami sangat akrab, kalau sharing tentang
kisah keseharian, keakraban kami begitu lekat dan lahap. Selain berekat
pinggang dalam dunia tulis-menulis, aku dan Ragil kerap beradu argumen
sastra, sekedar mempertajam intuisi sastrawi dan menyelami apa-apa yang
menyelinap dibalik jeruji hati.
Siang hari menjelang sore, sekira pukul setengah 3, aku terbangun dari
pulasnya tidur, hadiah lelah yang bertumpuk menggempur. Kucek kembali
reminder di hp-ku, terjadwal jika hari ini aku harus menghadiri acara
penting, penambah nutrisi sastrawi tentunya. Aku bergegas mempersiapkan
diri menuju Auditorium Center yang bertempat kurang lebih 2 Km dari
rumahku surgaku. Aku menancap gas dengan agak terburu-buru, karena
kupikir acara penting itu telah berlangsung sejak pukul 1 tadi. Apalagi
waktu menjelang ashar. Ditengah perjalanan aku berhenti di Surau Al
Makmur, yang menyisakan separuh jalan menuju lokasi acara.
Selepas shalat ashar, aku melanjutkan perjalanan, dengan langah semangat
terburu-buru namun tidak ceroboh. “aku harus cepat, jika tidak buku
sederhanaku takkan sampai ke pangkuannya”, kalimat provokasi ini selalu
membising ditelingaku.
Setiba di Auditorium Center, aku mengucap syukur sebab si Penting yang
kutunggu baru saja memulai titahnya. Salam pembuka nan hangat, menyeruak
ke seluruh lapisan dinding ruangan. “Ane udah di tkp. Antum dimana?”, ku-SMS Ragil-juga dengan semangat ‘terburu-buru’.
Sambil menunggu balasan Ragil, aku memberanikan diri masuk ke dalam,
tanpa memegang tiket ditangan. Bismillah ucapku. Aku meluruskan niat
betapa aku ingin bertemu Sang Maestro Cinta, Kang Habiburahman ElShirazy
alias Kang Abik.
Siapa yang tidak kenal penulis hebat satu ini. Atau jangan-jangan kita
tidak pernah tau perkembangan informasi, andai seujung kuku saja kita ga
tau tentang beliau. Walau dengan sebilah nama. Aku tidak akan
menjelaskan siapa Kang Abik secara komplit. Cukup kusebutkan Ayat-ayat
Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Di Atas Sajadah Cinta, Bumi Cinta, Cinta
Suci Zahrana. Semuanya novel pembuka cakrawala, menggempar dunia, bahasa
cinta tertuang lewat buah karya. Baik, kurasa cukup.
Aku duduk dengan gaya termanis. Di kursi paling belakang. Sebab bagian
depan sudah penuh. Lagipula aku ditemani Ragil, dengan kamera Cannon
extra-blitz entah milik siapa.
Kunikmati seurai demi seurai akrasa cinta yang menggema. Kang Abik
terlihat begitu piawai menjerat relung dengan setumpuk kemesraan.
Menggugah batin, yang mungkin selama ini menjelma bertanduk tak ubahnya
setan.
Amboi, petuah menuju penghujung telah tiba. Kecemasan dalam dada tak jua
kunjung mereda. Si Penting menyudahi semuanya, dalam kepala mengendap
segala tanya.
Hari beranjak malam. Petala langit tampak memerah, riuh angin menambah
merdunya nyanian alam. 10 menit lagi adzan maghrib berkumandang. Aku
meninggalkan si Penting dan acara hebat dengan mungkin ratusan atau
seribu-an peserta yang memadati ruangan. Dan sebentar lagi acara
ditutup.
Aku pulang sembari mencari Ragil. Aku tak tahu dimana dia. Dan...
Ternyata eh ternyata, dia telah mendahuluiku. Aku hanya melintas,
memastikan jika dia kembali ke tokonya, yang hanya beberapa langkah dari
lokasi acara.
Aku hanya lewat. Tanpa sepengetahuan Ragil. Aku hanya mengabarinya,
lagi-lagi via SMS bahwa aku kembali kerumah. Ragil meresponnya dengan
cepat, selepas isya dia mengajakku bertemu Kang Abik dalam sesi khusus.
Aku melawan rasa kantuk yang mulai menyerang. Rintik hujan membawa udara
dingin menusuk tulang. Tapi tak mengapa, ini sudah menjadi azzamku
sejak awal. Aku ingin mendapat kemanfaatan Ilmu darin Kang Abik, dan
memberinya hadiah tipis, sebuah buku cerita sederhanaku yang memang
tipis.
Alhamdulillah, masa itu tiba. Aku mulai tersentak tatkala ia bercerita
pengalamannya melamar sang istri belahan jiwa, dengan Ayat-ayat Cinta.
Ada yang tahu apa itu? Ya, sebuah NOVEL.
Jelas saja aku langsung membayang, tersirat dalam benak yang mulai peka
akan cinta. Bimbang, cemas, gelisah menjadi purna. Timpak sorai
gemerincing lonceng asmara tak kuasa menurunkan intonasinya. Hatiku
riuh, bertanya-tanya. Bagaimana jika kemudian aku melakukan hal yang
sama. Sebuah tindak yang dilakukan penulis kaliber dunia. Meminangmu
dengan sebuah NOVEL? Hasil tumpah keringatku sendiri?
Haha. Agak unik memang. “Kau” yang hampir-hampir kutetapkan siapa. Apakah pedal cinta yang kuinjak ini berkesan terburu-buru?
bersambung...
0 Comments:
Post a Comment