-->

Friday, July 1, 2016

Bagaimana Jika Kupinang Kau dengan Sebuah Novel?
Dear pena tercinta, tangan ini sudah lama memenat. Barang beberapa hari sudah tiada menumpahkan ceria, lewat sebuah cerita, cerita sederhana. Aha, terpikir olehku jika apa yang kuangkat sedikit meningkat. Hehe. Jika sebelumnya aku memerdekakan diri dengan seabreg kisah cinta ideologika, maka kiranya jenjang itu mulai menanjak.

Lazim sudah terdengar kalimat, “Kupinang Kau dengan Bismillah”. Aku mencoba mencari celah tentang situasi bismillah yang sebenarnya. Maksudku kalimat tinggi itu disertai dengan apa?

Sabtu ini merupakan sabtu paling istimewa buatku, mungkin juga buat Ragil sahabat ku. Kami sangat akrab, kalau sharing tentang kisah keseharian, keakraban kami begitu lekat dan lahap. Selain berekat pinggang dalam dunia tulis-menulis, aku dan Ragil kerap beradu argumen sastra, sekedar mempertajam intuisi sastrawi dan menyelami apa-apa yang menyelinap dibalik jeruji hati.

Siang hari menjelang sore, sekira pukul setengah 3, aku terbangun dari pulasnya tidur, hadiah lelah yang bertumpuk menggempur. Kucek kembali reminder di hp-ku, terjadwal jika hari ini aku harus menghadiri acara penting, penambah nutrisi sastrawi tentunya. Aku bergegas mempersiapkan diri menuju Auditorium Center yang bertempat kurang lebih 2 Km dari rumahku surgaku. Aku menancap gas dengan agak terburu-buru, karena kupikir acara penting itu telah berlangsung sejak pukul 1 tadi. Apalagi waktu menjelang ashar. Ditengah perjalanan aku berhenti di Surau Al Makmur, yang menyisakan separuh jalan menuju lokasi acara.

Selepas shalat ashar, aku melanjutkan perjalanan, dengan langah semangat terburu-buru namun tidak ceroboh. “aku harus cepat, jika tidak buku sederhanaku takkan sampai ke pangkuannya”, kalimat provokasi ini selalu membising ditelingaku.

Setiba di Auditorium Center, aku mengucap syukur sebab si Penting yang kutunggu baru saja memulai titahnya. Salam pembuka nan hangat, menyeruak ke seluruh lapisan dinding ruangan. “Ane udah di tkp. Antum dimana?”, ku-SMS Ragil-juga dengan semangat ‘terburu-buru’.

Sambil menunggu balasan Ragil, aku memberanikan diri masuk ke dalam, tanpa memegang tiket ditangan. Bismillah ucapku. Aku meluruskan niat betapa aku ingin bertemu Sang Maestro Cinta, Kang Habiburahman ElShirazy alias Kang Abik.

Siapa yang tidak kenal penulis hebat satu ini. Atau jangan-jangan kita tidak pernah tau perkembangan informasi, andai seujung kuku saja kita ga tau tentang beliau.  Walau dengan sebilah nama. Aku tidak akan menjelaskan siapa Kang Abik secara komplit. Cukup kusebutkan Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Di Atas Sajadah Cinta, Bumi Cinta, Cinta Suci Zahrana. Semuanya novel pembuka cakrawala, menggempar dunia, bahasa cinta tertuang lewat buah karya. Baik, kurasa cukup.

Aku duduk dengan gaya termanis. Di kursi paling belakang. Sebab bagian depan sudah penuh. Lagipula aku ditemani Ragil, dengan kamera Cannon extra-blitz entah milik siapa.

Kunikmati seurai demi seurai akrasa cinta yang menggema. Kang Abik terlihat begitu piawai menjerat relung dengan setumpuk kemesraan. Menggugah batin, yang mungkin selama ini menjelma bertanduk tak ubahnya setan.

Amboi, petuah menuju penghujung telah tiba. Kecemasan dalam dada tak jua kunjung mereda. Si Penting menyudahi semuanya, dalam kepala mengendap segala tanya.

Hari beranjak malam. Petala langit tampak memerah, riuh angin menambah merdunya nyanian alam. 10 menit lagi adzan maghrib berkumandang. Aku meninggalkan si Penting dan acara hebat dengan mungkin ratusan atau seribu-an peserta yang memadati ruangan. Dan sebentar lagi acara ditutup.

Aku pulang sembari mencari Ragil. Aku tak tahu dimana dia. Dan...

Ternyata eh ternyata, dia telah mendahuluiku. Aku hanya melintas, memastikan jika dia kembali ke tokonya, yang hanya beberapa langkah dari lokasi acara.

Aku hanya lewat. Tanpa sepengetahuan Ragil. Aku hanya mengabarinya, lagi-lagi via SMS bahwa aku kembali kerumah. Ragil meresponnya dengan cepat, selepas isya dia mengajakku bertemu Kang Abik dalam sesi khusus.

Aku melawan rasa kantuk yang mulai menyerang. Rintik hujan membawa udara dingin menusuk tulang. Tapi tak mengapa, ini sudah menjadi azzamku sejak awal. Aku ingin mendapat kemanfaatan Ilmu darin Kang Abik, dan memberinya hadiah tipis, sebuah buku cerita sederhanaku yang memang tipis.

Alhamdulillah, masa itu tiba. Aku mulai tersentak tatkala ia bercerita pengalamannya melamar sang istri belahan jiwa, dengan Ayat-ayat Cinta. Ada yang tahu apa itu? Ya, sebuah NOVEL.

Jelas saja aku langsung membayang, tersirat dalam benak yang mulai peka akan cinta. Bimbang, cemas, gelisah menjadi purna. Timpak sorai gemerincing lonceng asmara tak kuasa menurunkan intonasinya. Hatiku riuh, bertanya-tanya. Bagaimana jika kemudian aku melakukan hal yang sama. Sebuah tindak yang dilakukan penulis kaliber dunia. Meminangmu dengan sebuah NOVEL? Hasil tumpah keringatku sendiri?

Haha. Agak unik memang. “Kau” yang hampir-hampir kutetapkan siapa. Apakah pedal cinta yang kuinjak ini berkesan terburu-buru?


bersambung...

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna Veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.

0 Comments:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
DANYPUTRA IP
+62821-5863-2212
Yogyakarta, Indonesia