Yang Kayak Begini Masih Dianggap Teroris?
Cerita
singkat ini saya ukir kembali oleh sebab ketidakmengertian saya tentang
situasi zaman. Mengapa bisa demikian? Jelas saja, ada semacam anomali
yang kemudian memandang perkara yang benar menjadi salah. Sebaliknya,
perkara yang salah diapandang benar. Entah, keberlangsungan informasi
yang disajikan atas dasar kesengajaan atau tidak, dan mengandung unsur
sentimen agama atau tidak??
Sebelumnya, saya ingin berbagi kisah tentang ketika saya menjadi salah satu bagian dari ROHIS (Rohani Islam). Sungguh kenikmatan tak terbayang atas apa yang menyertai diri, melalui wasilah pintu ROHIS. Awal ketertarikan saya pada dunia tarbiyah wa ad dakwah ini semula tatkala saya diajak oleh salah seorang teman sekelas pada suatu kegiatan Islamuna, semacam wisata ruhiyah selama 3 hari di pantai Tanjung Gundul, di wilayah utara Kalimantan Barat. Seingat saya, persisnya pada Juli 2007. Kesempatan bagus bisa menjelajah wilayah pesisir, ditemani debur ombak dan kicau burung yang sangat melankolis.
Tanpa berpikir panjang, saya-pun tak kuasa menolak ajakan itu. Dan alhamdulillah, banyak manfaat yang saya raih, mulai dari jalinan ukhuwah, pentingnya menyayangi sesama, kedisiplinan, muhasabah, hingga bimbingan salat malam saya dapatkan dari tur singkat yang diselenggarakan ROHIS.
Siapa
sangka, saya perlahan mulai menikmati dunia ROHIS. Saya mencintai
ROHIS. Saya bersyukur pada Allah SWT atas segala bentuk kemudahan dalam
menerima kebenaran, dalam menerima ilmu-ilmu keislaman yang diajarkan
oleh mentor (murabbi). Follow up kegiatan Islamuna (Islam Kita)
berlanjut, saya mulai rutin belajar Islam sekali sepekan. Kesabaran dan
kelembutan murabbi saya, membuat sangat tersentuh dengan dakwah, dengan
segala kelezatannya.
Dengan
eksistensi ROHIS yang ada, cuap-cuap negatif selalu saja ada. Dituding
teroris-lah, aliran baru-lah, radikal-lah, segala hal yang membuat
kuping terasa gerah demikian gencar diluncurkan untuk menahan laju arus
dakwah.
Namun Allah punya rencana lain. Ia pasti menolong orang-orang yang menolong agama-Nya.
Jadilah,
kelanjutan dari aktifias ROHIS di sekolah kami. Meskipun belum
terbentuk begitu formal. FSRM (Forum Studi Remaja Muslim) menjadi wadah
berkumpulnya aktifis-aktifis remaja ROHIS dengan serangkaian kegiatan
keagamaan. Saya mulai sering mengikuti agenda semisal Diskusi Publik,
Penyuluhan Remaja Tentang HIV AIDS, Liqo’ (pertemuan) mingguan,
dan masih banyak lagi. Dan salah satu yang palig berkesan adalah,
produk media berupa buletin mingguan yang menjadi program andalan ROHIS
di sekolah kami, yang mengurai fakta-fakta kerusakan remaja beserta
solusi jitu untuk menjadikan generasi muda unggul, namum tetap ‘gaul’.
Struktur bahasanya yang renyah mengundang ketertarikan teman-teman
diluar ROHIS.
Yang kayak begini masih dianggap teroris?
Kelembutan,
kesopanan, apapun yang terkandung dalam akhlaqul karimah baginda nabi,
adalah tolok ukur aktifias dakwah ROHIS. Sebab dakwah ini bukan hanya
sekedar bicara tentang ilmu-ilmu ibadah mahdah saja, melainkan pula
membangun semangat berupa kesadaran yang mendalam tentang betapa
pentingnya beriman dan bertakwa kepada Allah SWT dengan sepenuh-penuh
keyakinan, tanpa ada sedikit-pun keraguan didalamnya.
Jujur
saya merasakan kebahagiaan terhebat oleh sebab perkenalan dengan dunia
ROHIS, dimana kita selalu bergandengan tangan dan merapatkan barisan
untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Masa lalu saya yang
suram-guram, perlahan mulai menepi-atas izin Allah.
Sungguh
tidak banyak yang bisa saya tuang melalui seutas kisah ini. Paling
tidak saya sudah berusaha membagi cinta kepada siapa saja yang membaca
ini, agar kiranya dapat saling bersinergi, menjaga silaturahim, saling
melindungi kehormatan. Serta-merta menjadi poin penting bagaimana
seharusnya sikap kita sebagai seorang muslim untuk kemudian meng-counter opini negatif yang diluncurkan media-media sekuler-liberal anti Islam.
Baiklah,
cerita indah tentang ROHIS berkelanjutan saat saya memasuki jenjang
perkuliahan. Masuk ke perguruan tinggi islam (STAIN) ternyata awalnya
diluar dugaan saya. Derasnya arus pemikiran yang tidak islami
mendominasi ‘kawasan’ kampus.
Disatu sisi saya bangga menjadi mahasiswa, disisi lain saya justru miris melihat keadaan kampus yang jauh dari syariat.
Pucuk
dicinta, ulam-pun tiba. Saya bertemu kak Dani, salah seorang senior di
kampus. Dia adalah ketua ROHIS (kampus:LDK) dan juga sebagai mentor
kampus. Tiada berapa lama kami berkenalan, kak Dani menerimaku sebagai
salah satu bagian dari dakwah kampus. Alhamdulillah.
Saat
itu menjelang siang hari. Saat mentari hendak berpijar di ufuk. Saya
sangat bahagia bisa kembali bertemu dengan sebuah komunitas yang
kondusif, yang mendukung tumbuh-kembang, yang memberikan keteladanan
serta persaudaraan yang khas. Pancaran tarbiyah kian melekat dan menanjak.
Yang kayak begini masih dianggap teroris?
Menjadi
mahasiswa, kegiatan ROHIS-pun meningkat. Saya ditunjuk sebagai HUMAS
(Hubungan Masyarakat) di LDK (Lembaga Dakwah Kampus). Saya dan
teman-teman mendapat amanah yang cukup menantang; punggawa kampus. Ya
punggawa kampus.
Rutinitas liqo’ menjadi
suatu keharusan, guna mencharge rohani kami yang barangkali tereduksi
dengan karat-karat hari. Selain itu, aksi dilapangan juga sering kami
lakukan. Syiar “Bebaskan Palestina”, dukung RUU APP, hanyalah sebagian
kecil dari berjubel agenda dakwah kampus yang pernah saya lakoni.
Semakin besar aktifitasnya, semakin besar pula tantangannya. Sunnatullah.
Aktifis-aktifis rohani kampus kerap saja dipandang sinis, fanatik,
sesat, kearab-arab-an, apalagi cemooh yang pernah kita dengar?
Semua
menghiasi gendang telinga saya, kami, atau mungkin kita semua. Yang
membuat sesak, beberapa waktu belakangan stigma ROHIS menjadi sarang
kaderisasi teroris oleh salah satu televisi swasta, betul-betul mengoyak
batin kita.
Betapa
tidak, dalam ROHIS kita belajar tentang kedamaian, kepatuhan, ketaatan,
semangat untuk memperbaiki diri, menjadi generasi rabbani, kepedulian, dan semua hal yang berbicara tentang kebaikan dunia-akhirat.
Yang kayak begini masih dianggap teroris?
Lomba Menulis, Kami Cinta Rohis, Kami Bukan Teroris
Danyputra
IAIN Pontianak
0 Comments:
Post a Comment