Tukireh, Penjual Koran Difabel
Bapak enam anak itu pun mengayuh sepedanya demikian kencang, seakan terlupa jika ia hanya mampu memegang dengan sebelah tangan.
“aku tak punya pilihan lain. Jika tak begini, anak-istriku makan apa?”, ucapnya lirih.
Lima
belas menit melaju, Tukireh menyasar persis di depan halte Bus. Sekira
400 meter sebelum jembatan kapuas. Ia menjajakkan koran-korannya tanpa
lelah. Waktu telah menunjukkan pukul setengah 6 pagi. Menggunakan
tangan kiri, pria paruh baya melambaikan jajakannya. Berharap ada yang
membeli walau tidak banyak. Tak sempat menyicip roti ataupun mengecap
semangkok bubur. Sarapan pagi adalah musuh ternyata bagi Tukireh.
“Koran pak, koran bu. Tidak mahal, Cuma 2000 perak.” Kalimat ini terus ia ulang sampai tekaknya habis.
Dua
jam berlalu. Tak satupun pengendara yang berhenti ‘memberinya’ sedikit
rupiah. Nyatanya kehidupan kota memang terlampau keras. Tangan
kanannya yang buntung sejak lahir, tak bisa lampirkan rasa iba. Ia pun
hanya bisa berpasrah kepada Tuhan.
Suatu ketika, Mukhlis, tetangga Tukireh pernah menyaksikan langsung betapa peliknya kehidupan keluarga mereka. Menghidupi istri dan keenam anaknya hanya bermodal berjualan koran.
“Apalagi
sekarang harga BBM melambung sampai Rp7.300 per liter. Otomatis harga
kebutuhan pokok turut naik. Sementara penghasilan Tukireh, yah menurut
ceritanya tidak pernah bertambah. Keuntungan setiap hari paling banter
Rp20.000. Itu pun sangat jarang,” ungkap sang ketua RT.
Parahnya,
rumah separuh gubuk milik Tukireh hendak digusur oleh Sat Pol PP
setempat dengan alasan mengganggu ketertiban kota. Kabarnya gang Siput
akan disulap menjadi taman kota. Tukireh hanya diberi tenggat waktu
seminggu untuk mencari tempat tinggal baru. Hah, tempat tinggal baru? Di
Kota Besar dengan gemerlap gedung setinggi ‘gunung’?. Bagaimana
mungkin? Ini tidak masuk akal. Untuk biaya hidup sehari-hari saja
dirinya nyaris ‘merebus batu’.
Fikri,
Rohmah, Udin, Halimah, si kembar mungil Rizky dan Rifky tak mungkin
dipaksa turun ke jalan. Keluarkan apa yang mereka bisa. Mental Tukireh
tidak begitu, seperti sebagian orangtua gang siput yang mendidik anaknya
menjadi pengemis. Keterbatasan fisiknya tak dapat digadai untuk
membeli rasa kasihan.
Tukireh
terus mengedarkan korannya, hingga mentari berpijar ganas. Mukanya
yang kusam nan legam, berbanding terbalik dengan melati di hatinya. Tak
jarang Romlah sang istri menyebutnya dengan istilah: ‘terbatas namun
berlapis emas’.
0 Comments:
Post a Comment