-->

Tuesday, June 28, 2016

Tukireh, Penjual Koran Difabel
FAJAR perlahan tampakkan pesonanya. Tukireh terperanjat dari tempat tidur beralas kardus mie instan. Ditatapnya langit, sambil mengusap kelopak matanya yang sembab. Segera saja ia menggelar sajadah, tunaikan kewajiban dua rakaat. Usai mengucap salam, dirinya lepas-landas mengambil jatah beribu lembar koran di salah satu media cetak kenamaan.

Bapak enam anak itu pun mengayuh sepedanya demikian kencang, seakan terlupa jika ia hanya mampu memegang dengan sebelah tangan.
“aku tak punya pilihan lain. Jika tak begini, anak-istriku makan apa?”, ucapnya lirih.
Lima belas menit melaju, Tukireh menyasar persis di depan halte Bus. Sekira 400 meter sebelum jembatan kapuas. Ia menjajakkan koran-korannya tanpa lelah. Waktu telah menunjukkan pukul setengah 6 pagi. Menggunakan tangan kiri, pria paruh baya melambaikan jajakannya. Berharap ada yang membeli walau tidak banyak. Tak sempat menyicip roti ataupun mengecap semangkok bubur. Sarapan pagi adalah musuh ternyata bagi Tukireh.
“Koran pak, koran bu. Tidak mahal, Cuma 2000 perak.” Kalimat ini terus ia ulang sampai tekaknya habis.
Dua jam berlalu. Tak satupun pengendara yang berhenti ‘memberinya’ sedikit rupiah. Nyatanya kehidupan kota memang terlampau keras. Tangan kanannya yang buntung sejak lahir, tak bisa lampirkan rasa iba. Ia pun hanya bisa berpasrah kepada Tuhan.  

Suatu ketika, Mukhlis, tetangga Tukireh pernah menyaksikan langsung betapa peliknya kehidupan keluarga mereka. Menghidupi istri dan keenam anaknya hanya bermodal berjualan koran.
“Apalagi sekarang harga BBM melambung sampai Rp7.300 per liter. Otomatis harga kebutuhan pokok turut naik. Sementara penghasilan Tukireh, yah menurut ceritanya tidak pernah bertambah. Keuntungan setiap hari paling banter Rp20.000. Itu pun sangat jarang,” ungkap sang ketua RT.
Parahnya, rumah separuh gubuk milik Tukireh hendak digusur oleh Sat Pol PP setempat dengan alasan mengganggu ketertiban kota. Kabarnya gang Siput akan disulap menjadi taman kota. Tukireh hanya diberi tenggat waktu seminggu untuk mencari tempat tinggal baru. Hah, tempat tinggal baru? Di Kota Besar dengan gemerlap gedung setinggi ‘gunung’?. Bagaimana mungkin? Ini tidak masuk akal. Untuk biaya hidup sehari-hari saja dirinya nyaris ‘merebus batu’.
Fikri, Rohmah, Udin, Halimah, si kembar mungil Rizky dan Rifky tak mungkin dipaksa turun ke jalan. Keluarkan apa yang mereka bisa. Mental Tukireh tidak begitu, seperti sebagian orangtua gang siput yang mendidik anaknya menjadi pengemis. Keterbatasan fisiknya tak dapat digadai untuk membeli rasa kasihan.
Tukireh terus mengedarkan korannya, hingga mentari berpijar ganas. Mukanya yang kusam nan legam, berbanding terbalik dengan melati di hatinya. Tak jarang Romlah sang istri menyebutnya dengan istilah: ‘terbatas namun berlapis emas’.
Dirinya mungkin hanyalah segelintir jelata yang bernafas di bumi nusantara. Terengah-engah. Mencari keadilan. Mencari sepinggan nasi untuk bertahan, diantara kepingan-kepingan hidup perkotaan, yang hanya menyajikan surga bagi para pemilik modal.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna Veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.

0 Comments:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
DANYPUTRA IP
+62821-5863-2212
Yogyakarta, Indonesia