Sketsa Kehidupan, Antara Cinta dan Rintihan si Militan
Pagi itu,
tepat pukul Sembilan, sejenak aku tergugu. Perlahan mataku melirik
kalender mungil yang menempel di lemariku. “Subhanallah, tanpa terasa
sudah 17 agustus, dimana setiap orang indonesia – hampir merata
memperingati hari kemerdekaan bangsa ini, gumamku dalam hati”. Hari ini
aku berencana melihat-lihat suasana diluar, sekedar melepas penat
selama berada di rumah.
Selepas melaksanakan shalat ashar berjama’ah di masjid nanti, aku juga berniat untuk sejenak bertawajuh[1] kepada Allah, sebagai sebuah ikhtiar dalam rangka tarbiyah dzatiyah[2]. Semua telah aku tulis di agenda harianku semalam.
Beberapa saat kemudian, bergegas aku layangkan jari-jemariku untuk menjelajah ke dunia maya via ponsel qwerty yang baru aku beli seminggu yang lalu. Seperti biasa, aku membuka facebook
dan melihat ungkapan perasaan teman-temanku. Beragam uneg-uneg
bermunculan tertuang dalam tulisan yang terkadang membuatku senang -
tertawa, memotivasi bahkan tak jarang menggiring diriku larut dalam
kesedihan. Berhubung momentum 17-an, teriakan dirgahayu Indonesiaku
pun kian menggema di situs jejaring sosial yang paling terkenal ini.
Sesekali kulirik wall
si Eka, karena kupikir dia sosok wanita yang berkarakter.
Sentuhan-sentuhan lembut yang keluar di dalam statusnya amat sering
menginspirasiku.
“jangan c uma menilai dari hasil
akhirnya saja, akan tetapi pelajari kerja kerasnya (semangat juang para
pahlawan) dalam memproses hal tersebut. Sekedar buat refleksi 66 th
kemedekaan” (Eka)[3]. Sontak aku termangu tatkala membacanya.
Memang
si doi adalah adik kelas idamanku sejak duduk di bangku SMA dulu
hingga sekarang. Menurutku, Ia bagai bidadari yang turut dari langit.
Hanya saja hasrat yang begitu menggelora masih tertahan hingga detik
ini. Aku sadar, bahwa Allah hanya meridhoi jalinan kasih yang
dibingkai tali pernikahan. Insya Allah, 5-6 tahun mendatang aku akan
memberanikan diri untuk ‘menyerahkan proposal’ (melamar/khitbah) dan
langsung menemui kedua orang tuanya. Amiin.
Ia seorang
wanita shalehah yang selalu menjaga pandangan terhadap lawan jenis.
Usianya hanya terpaut satu tahun lebih muda dariku. Pernah suatu hari
tanpa sengaja kami saling tatap di atas panggung, hanya sekejap &
kami segera ‘menundukkan’ mata. Kebetulan waktu itu kami diminta oleh
guru untuk bermain dalam sebuah drama “Ayat-ayat Cinta” yang akan
turut memeriahkan hari perpisahan sekolah. Dalam satu minggu,
setidaknya dua kali kami latihan.
Tugasku & Eka
cukup menantang. Kami ‘dihadiahi’ peran Fahri & Aisha, yang di
dalam novel kang Abik digambarkan sebagai inti cerita. Artinya, dialog
antara kami berdua menjadi lebih banyak ketimbang teman-teman yang
mendapat peran sebagai Maria, Rudi, Syaikh Utsman, Tuan Boutros,
Bahadur, Noura dll. Sejak saat itu, teman-teman sekelas sering
menggodaku. Aku masih ingat persis celoteh si Awan, sahabat baikku, ia
berseloroh :
“Hei Ram, kau sangat cocok ama ‘si jagoan’ (maksudnya Eka) itu, hahaaha”
“darimana kau tahu wan? tanyaku heran”
“darimana aja terserah aku donk, jawabnya enteng sambil tertawa terbahak-bahak”
“ah kau ini ada-ada saja wan”
…….
Hmmm, betapa menyenangkan saat mengenang masa-masa sekolah, benar-benar peristiwa yang takkan terulang kembali.
Tiada
terasa, menjelang tengah hari. Aku berhenti ‘bertamasya’ dari
aktifitas internet-an. Kebetulan cuaca hari ini sangat panas. Sinar
mentari yang berpijar seakan membakar kulit. Semilir angin yang
mengalun indah pagi tadi telah lenyap tak berbekas. Tentu saja,
saat-saat seperti ini sangat tidak mengenakkan untuk berjalan keluar
rumah.
…..
Allahu Akbar, Allahu Akbar!
Sayup-sayup
dari kejauhan terdengar panggilan ruhani agar bersegera menunaikan
kewajiban sebagai hamba. Ya, suara adzan itu mengetuk pintu hati
orang-orang yang beriman. Aku bersiap untuk berangkat shalat berjamaah
di masjid, sekalipun keadaan diluar kurang baik dan lokasi masjidnya
cukup jauh. Dengan mengucap “bismillahi tawakkaltu ‘ala Allah”, aku berangkat menggunakan matic milik ayahku.
Sehabis melaksanakan shalat dzuhur berikut sunnah rawatibnya, seseorang datang menghampiriku.
“assalamu’alaikum, hai Rama si ‘Militan’, kayfa haluq?”[4], sapanya ramah.
“Wa’alaikum salam, oh Akhi Bagas, Alhamdulillah ana bi khair, wa anta?”[5]
“ana aidhon khair”[6]
Bagas
adalah sahabat terbaikku. Kebetulan kami satu kampus dan mengenyam
pendidikan yang sama, yakni di fakultas Bahasa Arab LIPIA[7] Jakarta
Selatan km 9. Di lingkungan kampus, kerap kali aku dipanggil ‘si
militan’ oleh teman-temanku. Entah apa sebabnya aku tidak begitu
mengerti. Mungkin karena luapan pemikiranku tatkala berdiskusi di
kelas dianggap ‘Radikal’[8] oleh mereka.
Setelah
berbincang-bincang sebentar, Bagas mengajakku berkeliling keluar
masjid. Alhamdulillah, cuaca sudah tidak seperti tadi. Hembusan angin
yang menerpa kami membuat suasana terasa damai di tengah keramaian
hiruk-pikuk warga sekitar yang berbondong-bondong mendatangi
pementasan dangdut di seberang masjid demi ‘memeriahkan’ HUT ke 66
Kemerdekaan negeri ini. Sementara lantunan azdan yang teramat syahdu
tadi sama sekali tak membuat mereka bergeming. Na’uzdubillah min dzalik.
Tiada
berapa lama kemudian, kami mencari tempat bersantai yang nyaman,
serta membeli minuman hangat sebagai pelengkap. Banyak hal yang kami
bicarakan, mulai dari pertama kali kami bertemu saat hendak menuju ke
Jakarta, kisah-kisah unik yang kami alami di kota yang amat padat ini
- diselingi canda dan tawa, hingga diskusi ‘serius’ tentang
problematika bangsa.
Awalnya waktu itu di bandara,
secara tidak sengaja Bagas duduk di sampingku. Kami pun berkenalan,
mengobrol sampai menjelang keberangkatan. Kebetulan juga pesawat yang
hendak kami tumpangi baru tiba dua jam lagi. Kami saling bercerita.
Dan subhanallah, ternyata kami memiliki tujuan yang sama, yakni ingin
mencari peruntungan di ‘negeri orang’ dengan melanjutkan pendidikan di
salah satu Universitas Islam terkemuka di bumi nusantara. Walaupun
kami sama-sama lahir dan tumbuh besar di Pontianak, kami tak pernah
saling kenal sebelumnya, padahal tempat tinggalku tak begitu jauh
dengannya. Paling banter cuma 10 menit perjalanan jika menggunakan
kendaraan bermotor. Dan anehnya lagi, dulu – semasa sekolah, hampir
setiap hari kami shalat berjamaah di masjid al-Hikmah yang terletak di
tengah-tengah antara tempat tinggalku dan Bagas.
…….
Sambil mengamati keadaan sekitar, aku pun berkomentar :
“beginilah akhi, ketika agama tidak menjadi landasan dalam berkehidupan”, ungkapku dengan
sedikit menggerutu.
“maksud antum ritual perayaan kemerdekaan yang bernuansa hura-hura ini ya?” Selidik Bagas.
“Hmmm, bener banget gas. Malah menurutku secara hakiki kita belum merdeka. Pasalnya, negeri
ini sedang dijajah di berbagai sendi kehidupan. Betapa tidak, hingga juli kemarin hutang
Indonesia sebesar Rp. 1723, 9 Triliun.”[9]
Bagiku,
dalam menyerukan kebenaran, kita harus menjelaskan setiap persoalan
hingga ke akar-akarnya. Tentang kebobrokan sistem demokrasi misalnya,
sebagai penyebab utama terjadinya kesenjangan sosial, krisis moral
yang akut, korupsi, kriminalitas, kemiskinan, mahalnya biaya
pendidikan dsb. Oleh karena itu, sudah sepantasnya lah kita
mengupayakan, berjuang, serta berkontribusi aktif dalam perjuangan
mengembalikan keadaan negeri yang carut marut ini dengan menegakkan
sistem Islam, yakni syariah & khilafah[10]. Serta senantiasa mentarbiyah
diri & umat agar bersama-sama untuk mempelajari, mengamalkan,
juga menyampaikan risalah Rasulullah saw yang mulia ini (Islam).
Prinsip hidupku, “katakanlah yang benar, meskipun pahit”[11], mengutip
sabda Rasulullah saw sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits.
“kamu
benar Rama,memang beginilah ta’biat umat akhir zaman, hanya sedikit
yang mempunyai kesadaran untuk menjalankan perintah agama (Islam)”.
“Sungguh
menyedihkan, padahal para pahlawan kita dahulu adalah orang-orang
yang shaleh-shalehah. Sebut saja Sisinga Mangaraja, beliau termasuk
salah satu pahlawan muslim yang taat. Menurut Ahmad Mansur
Suryanegara, tidak benar kalau raja Sisinga Mangaraja menganut agama
leluhur tapi dia adalah seorang muslim yang taat. Termasuk para pejuang
Nasional yang kita kenal, mereka semuanya muslim. Pangeran Diponegoro
adalah Ustadznya Istana dan para penasihatnya adalah para Kyai. Imam
Bonjol, Cut Nyak Dien dan lain-lain semuanya adalah para ulama dan
santri.[12] Justru non-muslim yang berdiam di negeri ini, sebagian dari
mereka malah membantu penjajah”, tuntasku.
………
Waktu
mulai menunjukkan pukul 15.09, kumandang adzan kembali bergemuruh.
Sungguh amat merdu dentuman suara muadzin itu. Gelegak iramanya menjadi
penabuh rindu untuk kembali ‘bertemu’ kepada Sang Khaliq.
Obrolan
kami yang cukup panjang sembari ditemani segelas kopi hangat yang
kami beli di kedai ‘sahabat’ – berdampingan dengan selasar masjid, pun
terhenti. ‘Sinyal’ pengetuk dinding hati telah membahana, pertanda
waktu shalat ashar tiba. Kami berdua mulai beranjak dari tempat duduk
di taman masjid al-Hikmah yang cukup rindang ini. Kemudian kami menuju
ke ruang wudhu.
Sesaat setelah shalat ashar berjama’ah, segera aku bertawajuh
kepada Allah sebagaimana rencanaku sejak awal. Sahabatku Bagas
pulang lebih dulu. Aku terhenyak dan berdo’a. Mencoba mencurahkan
rintihan hati kepada Dzat Penggenggam seluruh alam. Perlahan air
mataku mulai bercucuran;
“Ya Allah
Di dalam termangu, aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh menyebutMu penuh seluruh”[13]
Ya Rabbul izzati, diri hamba penuh maksiat
Seperti butiran pasir, sungguh tiada terhitung
Hanya kepadaMu lah hamba memohon ampun
Dari segala dosa,
serta lindugi lah hamba dari kejahatan watak
diri dan orang-orang di sekitar hamba
Ya Allah
Berikanlah
yang terbaik bagi kehidupanku. Sudah merupakan takdirMu jika manusia
diciptakan berpasang-pasangan, maka cintakanlah aku kepada orang yang
benar-benar mencintai Engkau dan RasulMu.
Ya Rahman, Ya Rahim…
Hamba
mendapati keadaan kaum muslim, khususnya di negeri ini amat jauh dari
aturanMu. 66 tahun sudah Engkau beri kami kemerdekaan. Engkau
sertakan orang-orang shaleh(ah) – para pahlawan kami yang telah gugur
di medan jihad memenangkan pertempuran melawan kebathilan penjajah.
Namun saat ini, perjuangan yang teramat berat itu mulai
tercabik-cabik. Krisis moral, penguasa yang dzalim – memutarbalikkan
sejarah, fitnah yang merajalela, kemiskinan, dan berbagai kerusakan
lainnya justru terjadi silih berganti.
Ya Rabb,
janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang dzalim,
dan selamatkanlah kami dengan curahan RahmatMu dari tipu daya
orang-orang kafir.[14]
Ya Allah, sampaikanlah salam dan
shalawatku kepada Rasulullah Saw, dan bimbinglh kami agar senantiasa
meneladani manhaj serta mengikuti sunnah-sunnah beliau. Amiin.
…..
Alhamdulillah,
Sekarang
Perasaanku menjadi lebih lega dan damai seakan mendapat tetesan air
dari telaga Kautsar. Inilah cinta yang sesungguhnya. Sungguh tepat
perkataan seorang penyair[15] :
"apabila cinta memanggilmu, ikutilah dia walau jalannya berliku-liku”.
"kuhancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku mendengar suara cinta
memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk berpetualang"
0 Comments:
Post a Comment