-->

Tuesday, June 28, 2016

Sketsa Kehidupan, Antara Cinta dan Rintihan si Militan
Pagi itu, tepat pukul Sembilan, sejenak aku tergugu. Perlahan mataku melirik kalender mungil yang menempel di lemariku. “Subhanallah, tanpa terasa sudah 17 agustus, dimana setiap orang  indonesia – hampir merata memperingati hari kemerdekaan bangsa ini, gumamku dalam hati”. Hari ini aku berencana melihat-lihat suasana diluar, sekedar melepas penat selama berada di rumah.
Selepas melaksanakan shalat ashar berjama’ah di masjid nanti, aku juga berniat untuk sejenak bertawajuh[1] kepada Allah, sebagai sebuah ikhtiar dalam rangka tarbiyah dzatiyah[2]. Semua telah aku tulis di agenda harianku semalam.
Beberapa saat kemudian, bergegas aku layangkan jari-jemariku untuk menjelajah ke dunia maya via ponsel qwerty yang baru aku beli seminggu yang lalu. Seperti biasa, aku membuka facebook dan melihat ungkapan perasaan teman-temanku. Beragam uneg-uneg bermunculan tertuang dalam tulisan yang terkadang membuatku senang - tertawa, memotivasi bahkan tak jarang menggiring diriku larut dalam kesedihan. Berhubung momentum 17-an, teriakan dirgahayu Indonesiaku pun kian menggema di situs jejaring sosial yang paling terkenal ini.
Sesekali kulirik wall si Eka, karena kupikir dia sosok wanita yang berkarakter. Sentuhan-sentuhan lembut yang keluar di dalam statusnya amat sering menginspirasiku.
“jangan c uma menilai dari hasil akhirnya saja, akan tetapi pelajari kerja kerasnya (semangat juang para pahlawan) dalam memproses hal tersebut. Sekedar buat refleksi 66 th kemedekaan” (Eka)[3]. Sontak aku termangu tatkala membacanya.
Memang si doi adalah adik kelas idamanku sejak duduk di bangku SMA dulu hingga sekarang. Menurutku, Ia bagai bidadari yang turut dari langit. Hanya saja hasrat yang begitu menggelora masih tertahan hingga detik ini. Aku sadar, bahwa Allah hanya meridhoi jalinan kasih yang dibingkai tali pernikahan. Insya Allah, 5-6 tahun mendatang aku akan memberanikan diri untuk ‘menyerahkan proposal’ (melamar/khitbah) dan langsung menemui kedua orang tuanya. Amiin.
Ia seorang wanita shalehah yang selalu menjaga pandangan terhadap lawan jenis. Usianya hanya terpaut satu tahun lebih muda dariku. Pernah suatu hari tanpa sengaja kami saling tatap di atas panggung, hanya sekejap & kami segera ‘menundukkan’ mata. Kebetulan waktu itu kami diminta oleh guru untuk bermain dalam sebuah drama “Ayat-ayat Cinta” yang akan turut memeriahkan hari perpisahan sekolah. Dalam satu minggu, setidaknya dua kali kami latihan.
Tugasku & Eka cukup menantang. Kami ‘dihadiahi’ peran Fahri & Aisha, yang di dalam novel kang Abik digambarkan sebagai inti cerita. Artinya, dialog antara kami berdua menjadi lebih banyak ketimbang teman-teman yang mendapat peran sebagai Maria, Rudi, Syaikh Utsman, Tuan Boutros, Bahadur, Noura dll. Sejak saat itu, teman-teman sekelas sering menggodaku. Aku masih ingat persis celoteh si Awan, sahabat baikku, ia berseloroh :
“Hei Ram, kau sangat cocok ama ‘si jagoan’ (maksudnya Eka) itu, hahaaha”
“darimana kau tahu wan? tanyaku heran”
“darimana aja terserah aku donk, jawabnya enteng sambil tertawa terbahak-bahak”
“ah kau ini ada-ada saja wan”
…….
Hmmm, betapa menyenangkan saat mengenang masa-masa sekolah, benar-benar peristiwa yang takkan terulang kembali.
Tiada terasa, menjelang tengah hari. Aku berhenti ‘bertamasya’ dari aktifitas internet-an. Kebetulan cuaca hari ini sangat panas. Sinar mentari yang berpijar seakan membakar kulit. Semilir angin yang mengalun indah pagi tadi telah lenyap tak berbekas. Tentu saja, saat-saat seperti ini sangat tidak mengenakkan untuk berjalan keluar rumah.
…..
Allahu Akbar, Allahu Akbar!
Sayup-sayup dari kejauhan terdengar panggilan ruhani agar bersegera menunaikan kewajiban sebagai hamba. Ya, suara adzan itu mengetuk pintu hati orang-orang yang beriman. Aku bersiap untuk berangkat shalat berjamaah di masjid, sekalipun keadaan diluar kurang baik  dan lokasi masjidnya cukup jauh. Dengan mengucap “bismillahi tawakkaltu ‘ala Allah”, aku berangkat menggunakan matic milik ayahku.
Sehabis melaksanakan shalat dzuhur berikut sunnah rawatibnya, seseorang datang menghampiriku.
“assalamu’alaikum, hai Rama si ‘Militan’, kayfa haluq?”[4], sapanya ramah.
“Wa’alaikum salam, oh Akhi Bagas, Alhamdulillah ana bi khair, wa anta?”[5]
“ana aidhon khair”[6]
Bagas adalah sahabat terbaikku. Kebetulan kami satu kampus dan mengenyam pendidikan yang sama, yakni di fakultas Bahasa Arab LIPIA[7] Jakarta Selatan km 9. Di lingkungan kampus, kerap kali aku dipanggil ‘si militan’ oleh teman-temanku. Entah apa sebabnya aku tidak begitu mengerti. Mungkin karena luapan pemikiranku tatkala berdiskusi di kelas dianggap ‘Radikal’[8] oleh mereka.
Setelah berbincang-bincang sebentar, Bagas mengajakku berkeliling keluar masjid. Alhamdulillah, cuaca sudah tidak seperti tadi. Hembusan angin yang menerpa kami membuat suasana terasa damai di tengah keramaian hiruk-pikuk warga sekitar yang berbondong-bondong mendatangi pementasan dangdut di seberang masjid demi ‘memeriahkan’ HUT ke 66 Kemerdekaan negeri ini. Sementara lantunan azdan yang teramat syahdu tadi sama sekali tak membuat mereka bergeming. Na’uzdubillah min dzalik.
Tiada berapa lama kemudian, kami mencari tempat bersantai yang nyaman, serta membeli minuman hangat sebagai pelengkap. Banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari pertama kali kami bertemu saat hendak menuju ke Jakarta, kisah-kisah unik yang kami alami di kota yang amat padat ini -  diselingi canda dan tawa, hingga diskusi ‘serius’ tentang problematika bangsa.
Awalnya waktu itu di bandara, secara tidak sengaja Bagas duduk di sampingku. Kami pun berkenalan, mengobrol sampai menjelang keberangkatan. Kebetulan juga pesawat yang hendak kami tumpangi baru tiba dua jam lagi. Kami saling bercerita. Dan subhanallah, ternyata kami memiliki tujuan yang sama, yakni ingin mencari peruntungan di ‘negeri orang’ dengan melanjutkan pendidikan di salah satu Universitas Islam terkemuka di bumi nusantara. Walaupun kami sama-sama lahir dan tumbuh besar di Pontianak, kami tak pernah saling kenal sebelumnya, padahal tempat tinggalku tak begitu jauh dengannya. Paling banter cuma 10 menit perjalanan jika menggunakan kendaraan bermotor. Dan anehnya lagi, dulu – semasa sekolah, hampir setiap hari kami shalat berjamaah di masjid al-Hikmah yang terletak di tengah-tengah antara tempat tinggalku dan Bagas.
…….
Sambil mengamati keadaan sekitar, aku pun berkomentar :
“beginilah akhi, ketika agama tidak menjadi landasan dalam berkehidupan”, ungkapku dengan
  sedikit menggerutu.
“maksud antum ritual perayaan kemerdekaan yang bernuansa hura-hura ini ya?” Selidik Bagas.
“Hmmm, bener banget gas. Malah menurutku secara hakiki kita belum merdeka. Pasalnya, negeri
  ini sedang dijajah di berbagai sendi kehidupan. Betapa tidak, hingga juli kemarin hutang
  Indonesia sebesar Rp. 1723, 9 Triliun.”[9]
Bagiku, dalam menyerukan kebenaran, kita harus menjelaskan setiap persoalan hingga ke akar-akarnya. Tentang kebobrokan sistem demokrasi misalnya, sebagai penyebab utama terjadinya kesenjangan sosial, krisis moral yang akut, korupsi, kriminalitas, kemiskinan, mahalnya biaya pendidikan dsb. Oleh karena itu, sudah sepantasnya lah kita mengupayakan, berjuang, serta berkontribusi aktif dalam perjuangan mengembalikan keadaan negeri yang carut marut ini dengan menegakkan sistem Islam, yakni syariah & khilafah[10]. Serta senantiasa mentarbiyah diri & umat agar bersama-sama untuk mempelajari, mengamalkan, juga menyampaikan risalah Rasulullah saw yang mulia ini (Islam). Prinsip hidupku, “katakanlah yang benar, meskipun pahit”[11], mengutip sabda Rasulullah saw sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits.
“kamu benar Rama,memang beginilah ta’biat umat akhir zaman, hanya sedikit yang mempunyai kesadaran untuk menjalankan perintah agama (Islam)”. 
“Sungguh menyedihkan, padahal para pahlawan kita dahulu adalah orang-orang yang shaleh-shalehah. Sebut saja Sisinga Mangaraja, beliau termasuk salah satu pahlawan muslim yang taat. Menurut Ahmad Mansur Suryanegara, tidak benar kalau raja Sisinga Mangaraja menganut agama leluhur tapi dia adalah seorang muslim yang taat. Termasuk para pejuang Nasional yang kita kenal, mereka semuanya muslim. Pangeran Diponegoro adalah Ustadznya Istana dan para penasihatnya adalah para Kyai. Imam Bonjol, Cut Nyak Dien dan lain-lain semuanya adalah para ulama dan santri.[12] Justru non-muslim yang berdiam di negeri ini, sebagian dari mereka malah membantu penjajah”, tuntasku.
………
Waktu mulai menunjukkan pukul 15.09, kumandang adzan kembali bergemuruh. Sungguh amat merdu dentuman suara muadzin itu. Gelegak iramanya menjadi penabuh rindu untuk kembali ‘bertemu’ kepada Sang Khaliq.
Obrolan kami yang cukup panjang sembari ditemani segelas kopi hangat yang kami beli di kedai ‘sahabat’ – berdampingan dengan selasar masjid, pun terhenti. ‘Sinyal’ pengetuk dinding hati telah membahana, pertanda waktu shalat ashar tiba. Kami berdua mulai beranjak dari tempat duduk di taman masjid al-Hikmah yang cukup rindang ini. Kemudian kami menuju ke ruang wudhu.  
Sesaat setelah shalat ashar berjama’ah, segera aku bertawajuh kepada Allah sebagaimana rencanaku sejak awal.  Sahabatku Bagas pulang lebih dulu. Aku terhenyak dan berdo’a. Mencoba mencurahkan rintihan hati kepada Dzat Penggenggam seluruh alam.  Perlahan air mataku mulai bercucuran;
“Ya Allah
Di dalam termangu, aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh menyebutMu penuh seluruh”[13]
Ya Rabbul izzati, diri hamba penuh maksiat
Seperti butiran pasir, sungguh tiada terhitung
Hanya kepadaMu lah hamba memohon ampun
Dari segala dosa,
serta lindugi lah hamba dari kejahatan watak
diri dan orang-orang di sekitar hamba
Ya Allah
Berikanlah yang terbaik bagi kehidupanku. Sudah merupakan takdirMu jika manusia diciptakan berpasang-pasangan, maka cintakanlah aku kepada orang yang benar-benar mencintai Engkau dan RasulMu.
Ya Rahman, Ya Rahim…
Hamba mendapati keadaan kaum muslim, khususnya di negeri ini amat jauh dari aturanMu. 66 tahun sudah Engkau beri kami kemerdekaan. Engkau sertakan orang-orang shaleh(ah) – para pahlawan kami yang telah gugur di medan jihad memenangkan pertempuran melawan kebathilan penjajah. Namun saat ini, perjuangan yang teramat berat itu mulai tercabik-cabik. Krisis  moral, penguasa yang dzalim – memutarbalikkan sejarah, fitnah yang merajalela, kemiskinan, dan berbagai kerusakan lainnya justru terjadi silih berganti.
Ya Rabb, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang dzalim, dan selamatkanlah kami dengan curahan RahmatMu dari tipu daya orang-orang kafir.[14]
Ya Allah, sampaikanlah salam dan shalawatku kepada Rasulullah Saw, dan bimbinglh kami agar senantiasa meneladani manhaj serta mengikuti sunnah-sunnah beliau. Amiin.
…..
Alhamdulillah,
Sekarang Perasaanku menjadi lebih lega dan damai seakan mendapat tetesan air dari telaga Kautsar. Inilah cinta yang sesungguhnya. Sungguh tepat perkataan seorang penyair[15] :
"apabila cinta memanggilmu, ikutilah dia walau jalannya berliku-liku”.
"kuhancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku mendengar suara cinta
 memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk berpetualang"

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna Veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.

0 Comments:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
DANYPUTRA IP
+62821-5863-2212
Yogyakarta, Indonesia