-->

Tuesday, June 28, 2016

Korban Informasi (Bagian 1)
“Dasar kolot, mirip teroris pula kau ini”, ketus gabriel dengan wajah penuh jumawa. Gabriel bersikap sangat kasar, lalu menghardik si Rahmat dan kembali meneriakinya dengan kalimat  yang sama.
Astagfirullah al adzim, Rahmat mengucap istighfar dengan suara pelan.
Berlagak seperti orang suci saja kau, paling ga lama lagi kau juga bakal jadi ‘teroris’ beneran dan membunuh orang-orang kami tanpa berperikemanusiaan, pekik Gabriel.
Rahmat mencoba menenangkan diri, seraya berkata : “Itu tidak benar kawan, semua yang kau saksikan di televisi hanyalah isapan jempol belaka. Layar kotak yang menjadi tontonan kita sehari-hari sama sekali tak menggambarkan kebenaran sedikit pun. Contoh yang paling dekat di hadapan kita adalah kasus Bom Cirebon beberapa hari lalu, jelas bukan mencerminkan tindakan yang didasari ajaran agama tertentu. Bahkan Nabi kami (Muhammad saw) tak sedetik pun mengajarkan hal yang demikian”.
Si beringas Gabriel sempat terdiam sesaat, selang beberapa detik ia melontarkan sebuah pertanyaan kepada Rahmat. Ia sebetulnya amat penasaran akan informasi yang dituturkan oleh Rahmat, hanya saja raut mukanya yang hitam legam berkerut dipenuhi tumpahan keringat seolah menampik hal itu.
“Apa kau ingin berbohong demi membela kaum seagamamu? Atau malah kau adalah salah satu simpatisan mereka? Apakah kau bagian dari NII, gerakan separatis jihad?
bahh....entah apalah namanya”, geram anak berdarah Batak-Ambon ini.
Rahmat tersenyum simpul dan melanjutkan penjelasannya. “begini saja, alangkah baiknya kita selesaikan ‘perkara’ ini di meja biru milik pak Bambang, alias di kantin?? Agar suasana menjadi lebih tenang”.
Di samping kelas terdengar gemericik tawa si Togar, yang notabene merupakan teman akrab si Rahmat. Kebetulan area keributan tadi bersebelahan dengan kelasnya, ia telah menguping ‘percakapan akbar’ yang sudah berlangsung cukup lama-berkisar antara 6-7 menit-, membuat raganya menjadi urung untuk tetap diam. Beruntung, saat itu tengah istirahat dan ruang guru terletak di lantai atas.
Memang sosok Gabriel dikenal sebagai momok yang cukup menakutkan ‘sealam jagad’ Sekolah Menengah Atas Purnama Insan yang terletak di pinggiran kota Kembang. Betapa malang nasib seseorang yang tenggelam dalam kekisruhan yang dimotori olehnya. Sikap tempramennya ini semula disebabkan oleh ketidakpedulian orangtuanya. Gabriel memiliki seorang Ibu penganut Katolik yang terkenal taat beragama, sedangkan sang ayah merupakan pengemban keyakinan Kabbalah, yang termasuk salah satu sekte terbesar agama yahudi. Sekalipun hidup di apartemen mewah dengan beragam fasilitas serba ada, nasib Gabriel tak ubahnya seorang anak yang tersesat di hutan belantara. Setiap waktu ia selalu menjumpai pertikaian kedua orangtuanya yang berbeda keyakinan. Antara satu sama lain saling mencerca ajaran agama mereka masing-masing, bahkan kata ‘pisah ranjang’ nyaris tak pernah luput disela-sela pertengkaran mereka. Gabriel sendiri memutuskan untuk mengikuti keyakinan ibunya. Ia beranggapan bahwa keyakinan Kabbalah-Illuminati, yakni yang dianut oleh ayahnya adalah biang malapetaka dan terus-menerus menciptakan kerusakan di muka bumi, dalam catatan sejarah, semua bersumber dari tindakan umat yahudi yang mengkhianati seorang nabi (Isa as) yang dipertuhan oleh mereka (nasrani), hingga sekarang (red;Israel) yang membantai umat manusia dengan serangan yang amat buas, sungguh diluar batas kemanusiaan.
Mungkin inilah yang membuat Gabriel turut membenci Islam ‘ektrimis’-yang oleh media-media sekuler diidentikkan dengan ragam aksi yang intoleran, semisal bom bunuh diri. Mengetahui akan informasi sepihak ini, lantas Gabriel sangat anti kala melihat seseorang yang berjenggot, menggunakan celana kain jingkrang, apalagi jika ditambah peci, tentu kemarahannya akan sampai pada titik puncak, dan Rahmat sangat identik dengan ciri-ciri itu. 
(bersambung)

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna Veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.

0 Comments:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
DANYPUTRA IP
+62821-5863-2212
Yogyakarta, Indonesia