Korban Informasi (Bagian 1)
Astagfirullah al adzim, Rahmat mengucap istighfar dengan suara
pelan.
Berlagak seperti orang suci saja
kau, paling ga lama lagi kau juga bakal jadi ‘teroris’ beneran dan membunuh
orang-orang kami tanpa berperikemanusiaan, pekik Gabriel.
Rahmat mencoba menenangkan diri,
seraya berkata : “Itu tidak benar kawan, semua yang kau saksikan di televisi
hanyalah isapan jempol belaka. Layar kotak yang menjadi tontonan kita
sehari-hari sama sekali tak menggambarkan kebenaran sedikit pun. Contoh yang
paling dekat di hadapan kita adalah kasus Bom Cirebon beberapa hari lalu, jelas
bukan mencerminkan tindakan yang didasari ajaran agama tertentu. Bahkan Nabi
kami (Muhammad saw) tak sedetik pun mengajarkan hal yang demikian”.
Si beringas Gabriel sempat
terdiam sesaat, selang beberapa detik ia melontarkan sebuah pertanyaan kepada
Rahmat. Ia sebetulnya amat penasaran akan informasi yang dituturkan oleh
Rahmat, hanya saja raut mukanya yang hitam legam berkerut dipenuhi tumpahan
keringat seolah menampik hal itu.
“Apa kau ingin berbohong demi
membela kaum seagamamu? Atau malah kau adalah salah satu simpatisan mereka?
Apakah kau bagian dari NII, gerakan separatis jihad?
bahh....entah apalah namanya”,
geram anak berdarah Batak-Ambon ini.
Rahmat tersenyum simpul dan
melanjutkan penjelasannya. “begini saja, alangkah baiknya kita selesaikan
‘perkara’ ini di meja biru milik pak Bambang, alias di kantin?? Agar suasana
menjadi lebih tenang”.
Di samping kelas terdengar gemericik
tawa si Togar, yang notabene merupakan teman akrab si Rahmat.
Kebetulan area keributan tadi bersebelahan dengan kelasnya, ia
telah menguping ‘percakapan akbar’ yang sudah berlangsung cukup lama-berkisar antara 6-7 menit-, membuat raganya
menjadi urung untuk tetap diam. Beruntung, saat itu tengah istirahat dan ruang
guru terletak di lantai atas.
Memang sosok Gabriel dikenal
sebagai momok yang cukup menakutkan ‘sealam jagad’ Sekolah Menengah Atas
Purnama Insan yang terletak di pinggiran kota Kembang. Betapa malang
nasib
seseorang yang tenggelam dalam kekisruhan yang dimotori olehnya. Sikap
tempramennya ini semula disebabkan oleh ketidakpedulian orangtuanya.
Gabriel
memiliki seorang Ibu penganut Katolik yang terkenal taat beragama,
sedangkan
sang ayah merupakan pengemban keyakinan Kabbalah, yang termasuk salah
satu
sekte terbesar agama yahudi. Sekalipun hidup di apartemen mewah dengan
beragam
fasilitas serba ada, nasib Gabriel tak ubahnya seorang anak yang
tersesat di
hutan belantara. Setiap waktu ia selalu menjumpai pertikaian kedua
orangtuanya
yang berbeda keyakinan. Antara satu sama lain saling mencerca ajaran
agama
mereka masing-masing, bahkan kata ‘pisah ranjang’ nyaris tak pernah
luput
disela-sela pertengkaran mereka. Gabriel sendiri memutuskan untuk
mengikuti
keyakinan ibunya. Ia beranggapan bahwa keyakinan Kabbalah-Illuminati,
yakni
yang dianut oleh ayahnya adalah biang malapetaka dan terus-menerus
menciptakan
kerusakan di muka bumi, dalam catatan sejarah, semua bersumber dari
tindakan umat yahudi yang mengkhianati seorang nabi (Isa as) yang
dipertuhan oleh mereka (nasrani), hingga sekarang
(red;Israel) yang membantai umat manusia dengan serangan yang amat buas,
sungguh diluar batas kemanusiaan.
Mungkin inilah yang membuat
Gabriel turut membenci Islam ‘ektrimis’-yang oleh media-media sekuler
diidentikkan dengan ragam aksi yang intoleran, semisal bom bunuh diri.
Mengetahui akan informasi sepihak ini, lantas Gabriel sangat anti kala
melihat seseorang
yang berjenggot, menggunakan celana kain jingkrang, apalagi jika
ditambah peci,
tentu kemarahannya akan sampai pada titik puncak, dan Rahmat sangat
identik
dengan ciri-ciri itu.
(bersambung)
0 Comments:
Post a Comment