-->

Tuesday, June 28, 2016

Elegi Syarifah Terakhir
PEREMPUAN itu tampak ayu. Cerminan ahli surga, bersebab tuturnya yang penuh berlian. Tak tergambar dengan sederet naskah. Parasnya sejuk. Siapapun tak kan kerjapkan mata saat memandangnya. Andai boleh, pandangan berulang dua kali atau lebih. Atau sekali saja, namun dengan durasi yang lama?

Berdasar lubuk terdalam, tak banyak wanita di muka bumi yang mampu menata hatinya. Meski cantik rupawan, lelaki mana sanggup menggodanya. Justru yang terjadi adalah mereka sebatas menghimpun suka lewat gurindam lagu tanpa irama, atau menjejak asa lewat beranda maya.

Syarifah Terakhir. Demikian orang menyebutnya. Kesehariannya sebagai pendidik tak meluputkan keinginannya untuk bersegera mengakhiri sandiwara,berpura-pura tegar dengan kesendiriannya.

Wallahu alam. Siapa yang tahu dinding hati seseorang. Mungkin sekelebat ia bisa menghindar dari setangkup ujian mata dan kata. Tapi di malam hari? Boleh jadi ia merintih sebab usianya menjejak dewasa. Ia membutuhkan pundak untuk bersandar. Ia memerlukan penentram rasa gulana. Semua pun mendera, inginnya menuju bahtera asa secepatnya.

Namun apa mau dikata, Sang Ayah masih melampau keras. Padahal banyak lelaki saleh yang datang menghadirkan lamaran padanya. Ada yang bekerja sebagai pengusaha, ada pula dari kalangan papa. Semua ditolak mentah-mentah, karena ia Syarifah Terakhir!

“ingat Fiona, kau harus berpasangan dengan yang sekufu, sepadan dengan nasab kita. Kamu itu syarifah terakhir! Tak bisa dimungkiri. Pokoknya Ayah tidak ingin kau menikah sebelum mendapatkan sosok yang pantas, dari keturunan kita juga!”

Kalimat ini terus menggendang di telinganya. Apa wanita sepertinya harus menerima kepahitan seperti ini. Di lain sisi, bunda selalu berusaha menengahi, “jodoh takkan kemana nak”. Sayang larik cinta ini terucap lima tahun lalu. Kini bunda sudah tiada, bersamaan kasih dan cintanya.

Disinilah kemudian elegi itu muncul. Sang Ayah sudah menyiapkan Syarif Jalaluddin Rumi, keponakannya. Anak kedua dari adiknya. Kalau istilah dalam melayu klasik, ini dinamakan “kawin pulang pupu.”

Jelas Fiona berada diselaksa dendang dilema. Tanpa belaian bunda, putusan seperti apa yang harus ia ambil? Jelas menolak perintah sang Ayah nyaris tidak mungkin, sedang menikah dengan Syarif Jalal tentu bukan pilihan terbaik.

“Ya Allah apa yang harus hamba lakukan?”, tangis kecil Fiona mulai mengisi keheningan malam. Ia pun bersujud begitu lama, tak sebagaimana biasa, sampai-sampai garis mukena menempel erat di dahinya.

Cinta ini bagai cinta Datuk Maringgi versus Siti Nurbaya. Mencinta Paksa. Meski berada
di keruhnya suasana, Fiona mencoba tegar, mencari jalan untuk menjelaskan pelan pada Ayahnya. Mungkin selama hidupnya terasa enggan mengutarakan segala mau kepada Ayahanda, hingga mengendap rasa karsa tanpa bahasa.

Bangunan komunikasi mulai ditata, sehasta demi sehasta, untuk meyakinkan tentang apa sebenarnya yang dirasa Fiona. Gadis salehah ini berjuang siang-malam meyakinkan ayahnya.

“Yah, Fio boleh minta waktu sebentar?”
“Iya ada apa?”,
“soal Jalal yah”
“ah itu lagi. Keputusan ayah sudah bulat. Kau harus menikahi Syarif Jalal. Karena kau?”
“Syarifah Terakhir??”, Fiona lekas menimpali.
“nah kau sudah tahu itu. Besok Jalal dan keluarganya akan datang ke rumah. Jangan lupa siapkan dirimu.”
“tapi yah?”
“tanpa tapi, titik”, nada sang Ayah mulai meninggi.

Diskusi malam itu tak munculkan hasil yang berbeda. Upaya Fiona nihil. Mau bagaimana lagi. Ia tak punya pilihan, justru yang menggelinjang dalam pikirannya, bagaimana jika ia tidak menuruti kehendak Ayahnya, lalu sang Ayahanda naik pitam dan jatuh sakit, mengingat usianya yang semakin senja. Fiona tak dapat berucap, kelu sudah lidahnya. Airmatapun kering dan menguap pergi. Hanya tinggal berharap Allah punya skenario lain. Tersadar pula Fiona, jika dirinya SYARIFAH TERAKHIR!

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna Veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.

0 Comments:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
DANYPUTRA IP
+62821-5863-2212
Yogyakarta, Indonesia