Elegi Syarifah Terakhir
Berdasar lubuk terdalam, tak banyak
wanita di muka bumi yang mampu menata hatinya. Meski cantik rupawan,
lelaki mana sanggup menggodanya. Justru yang terjadi adalah mereka
sebatas menghimpun suka lewat gurindam lagu tanpa irama, atau menjejak
asa lewat beranda maya.
Syarifah Terakhir. Demikian orang
menyebutnya. Kesehariannya sebagai pendidik tak meluputkan keinginannya
untuk bersegera mengakhiri sandiwara,berpura-pura tegar dengan
kesendiriannya.
Wallahu alam. Siapa yang tahu dinding hati
seseorang. Mungkin sekelebat ia bisa menghindar dari setangkup ujian
mata dan kata. Tapi di malam hari? Boleh jadi ia merintih sebab usianya
menjejak dewasa. Ia membutuhkan pundak untuk bersandar. Ia memerlukan
penentram rasa gulana. Semua pun mendera, inginnya menuju bahtera asa
secepatnya.
Namun apa mau dikata, Sang Ayah masih
melampau keras. Padahal banyak lelaki saleh yang datang menghadirkan
lamaran padanya. Ada yang bekerja sebagai pengusaha, ada pula dari
kalangan papa. Semua ditolak mentah-mentah, karena ia Syarifah Terakhir!
“ingat
Fiona, kau harus berpasangan dengan yang sekufu, sepadan dengan nasab
kita. Kamu itu syarifah terakhir! Tak bisa dimungkiri. Pokoknya Ayah
tidak ingin kau menikah sebelum mendapatkan sosok yang pantas, dari
keturunan kita juga!”
Kalimat ini terus menggendang di
telinganya. Apa wanita sepertinya harus menerima kepahitan seperti ini.
Di lain sisi, bunda selalu berusaha menengahi, “jodoh takkan kemana
nak”. Sayang larik cinta ini terucap lima tahun lalu. Kini bunda sudah
tiada, bersamaan kasih dan cintanya.
Disinilah kemudian
elegi itu muncul. Sang Ayah sudah menyiapkan Syarif Jalaluddin Rumi,
keponakannya. Anak kedua dari adiknya. Kalau istilah dalam melayu
klasik, ini dinamakan “kawin pulang pupu.”
Jelas Fiona
berada diselaksa dendang dilema. Tanpa belaian bunda, putusan seperti
apa yang harus ia ambil? Jelas menolak perintah sang Ayah nyaris tidak
mungkin, sedang menikah dengan Syarif Jalal tentu bukan pilihan
terbaik.
“Ya Allah apa yang harus hamba lakukan?”, tangis
kecil Fiona mulai mengisi keheningan malam. Ia pun bersujud begitu lama,
tak sebagaimana biasa, sampai-sampai garis mukena menempel erat di
dahinya.
Cinta ini bagai cinta Datuk Maringgi versus Siti
Nurbaya. Mencinta Paksa. Meski berada
di keruhnya suasana, Fiona mencoba
tegar, mencari jalan untuk menjelaskan pelan pada Ayahnya. Mungkin
selama hidupnya terasa enggan mengutarakan segala mau kepada Ayahanda,
hingga mengendap rasa karsa tanpa bahasa.
Bangunan
komunikasi mulai ditata, sehasta demi sehasta, untuk meyakinkan tentang
apa sebenarnya yang dirasa Fiona. Gadis salehah ini berjuang siang-malam
meyakinkan ayahnya.
“Yah, Fio boleh minta waktu sebentar?”
“Iya ada apa?”,
“soal Jalal yah”
“ah itu lagi. Keputusan ayah sudah bulat. Kau harus menikahi Syarif Jalal. Karena kau?”
“Syarifah Terakhir??”, Fiona lekas menimpali.
“nah kau sudah tahu itu. Besok Jalal dan keluarganya akan datang ke rumah. Jangan lupa siapkan dirimu.”
“tapi yah?”
“tanpa tapi, titik”, nada sang Ayah mulai meninggi.
Diskusi
malam itu tak munculkan hasil yang berbeda. Upaya Fiona nihil. Mau
bagaimana lagi. Ia tak punya pilihan, justru yang menggelinjang dalam
pikirannya, bagaimana jika ia tidak menuruti kehendak Ayahnya, lalu sang
Ayahanda naik pitam dan jatuh sakit, mengingat usianya yang semakin
senja. Fiona tak dapat berucap, kelu sudah lidahnya. Airmatapun kering
dan menguap pergi. Hanya tinggal berharap Allah punya skenario lain.
Tersadar pula Fiona, jika dirinya SYARIFAH TERAKHIR!
0 Comments:
Post a Comment