Benarkah?
Siapa sangka, aku telah berada di dalam perjamuan cinta-walau mungkin palsu. Aku sama sekali tak mengerti. Sungguh. Kalimat, “Tyas menyukai abang lebih dari sekedar yang abang tahu”, menggidik bulu kudukku. Amboi!Seramnya jika kuingat-ingat lagi, kamu-aku masih duduk di kelas satu, masih teramat polos dan lugu!.
Aku takut. Cemas. Kalau ayah dan ibu tahu, di usia sebelas-dua belas tahun aku sudah berani menggurindami cinta. Membuatnya jadi berderet-deret bait, yang pada akhirnya bertalian hingga menelusuk ke beberapa mimpi di tepian malam. Mungkin aku bertindak bodoh, aku terpaksa membuang ‘suratcinta’mu ke tong sampah. Khawatir jika orangtuaku menemukannya saat aku lengah. Maklum, masa itu adalah masa dimana manusia-indonesia baru saja terlepas dari kungkungan rezim orde baru. Puing-puing “kekerasan watak” masih terserak, walau tak lagi kasar.
Dan waktu pun terus berlalu. Romansa cinta di Sekolah Menengah Pertama mengepal, bahkan hadirkan ingatan tebal.
Benarkah? Lampiran senyummu bermula dari dentuman jiwa yang manis dan tulus-suci? Benarkah jika kenangan indah itu tetap sama seperti dulu?. Ah! aku tak mau terlalu jauh berbicara perihal tulang-rusuk. Paling tidak, kita saling beradu senyum dan tawa rindu, dalam suasana kumpul bersama teman-teman se-almamater, di hari minggu malam, berkawan rerintik hujan dan bergelas cappucino hangat. Teramat melankolik.
Meski kelopak mataku terpaku melihat purnama tenggelam di wajahmu, tetap saja aku membiarkan diriku merdeka, tak akan menggantung asa apapun. Harap bagaimana-pun. Karena aku cukup memahamimu, cintamu kini tak berhak untukku. Namun aku akan memutiarakan rasa ini, menjadikannya berlian. Terlepas apakah nanti kamu kembali atau tidak. Dalam beberapa hasta ke depan, sambangi hatiku lagi.
0 Comments:
Post a Comment